Research & Development

Thread tentang Riset dan pengembangan oleh ahlinya, Om @hotradero. Link Tweet https://twitter.com/hotradero/status/1096218324625588224

Pada suatu hari, Ahmad Zaky – CEO dari Bukalapak memposting sebuah twit tentang budget untuk Research & Development. Begini kira – kira bunyinya:

twit ahmad zaky

Twit tersebut menuai banyak respon dari netizen karena kalimat terakhirnya yang seolah – olah, CEO Bukalapak ini berpihak kepada Capres 02.

Padahal, gapapa juga sih dia mau berpihak kemana, kan dia Warga negara juga, bebas menentukan pilihan politik. Skip skip

Respon juga datang dari orang yang konon sudah 20 tahun berkecimpung di dunia R&D, yaitu Om Poltak Hotradero. Ini dia responnya:

Pandangan om Poltak terhadap Riset dan Pengembangan

Serius nih pada mau ngomong soal Riset? Nggak tanya bagaimana pendapat gue yang sudah hampir 20 tahun jadi orang riset?

Ada bagian yang benar dari twit ahmad zaky: anggaran R&D di Indonesia terlalu rendah. Mau pake angka tahun berapapun ya tetap rendah. Kita terima aja dulu hal itu.

Tapi apa iya semata soal alokasi anggaran? Tentu saja tidak. Apa iya cuma tugas presiden? Juga tidak.

Siapa penerima manfaat pangodari kegiatan riset?

Ya paling utamanya para peneliti. Apakah kesejahteraan mereka sudah sebanding dengan produktivitas mereka? Nah ini maha runyam. Kompleks.

Belum lagi bicara soal kualifikasi dan independensi.

Akarnya ada di mana? Tradisi keilmuan, cara pandang terhadap metode ilmiah, sistematika, dan pengambilan kesimpulan, bagaimana kurikulum pengajaran disusun, bagaimana alokasi anggaran disusun, dll.

Belum lagi Riset dan Pengembangan adalah dua hal berbeda dan terpisah.

Banyak perusahaan di Indonesia ingin melakukan pengembangan ini-itu tapi tidak mau melakukan riset.

Yang sering terjadi, keputusan produk atau pasar baru sekadar mengandalkan ‘gut feeling’ Dewan Direksi. Mengandalkan intuisi, perasaan, naluri, atau apapun itu.

Perusahaan di Indonesia belum memaksimalkan riset dan pengembangan

Direksi yang lebih senior mengandalkan pengalaman. “Dari pengalaman saya sebagai xxx selama yyy tahun – kalau melakukan zzz pasti sukses”

Tapi apa iya jaman dulu dan segala asumsinya akan sama dengan jaman sekarang?

Ini gambaran 12 tahun lalu soal Nokia.

Direksi yang peragu – akan mencari second opinion.

Biasanya dari teman-teman di bisnis yang sama. Itu sebabnya segala bisnis di Indonesia selalu ada asosiasinya, karena orang Indonesia senang guyub – kalau salah jangan sampai sendirian. Berjamaah lebih baik.

Maka nggak heran asosiasi di Indonesia lebih condong menjerumuskan. Karena banyak tradisi pengambilan keputusannya juga sering nggak ilmiah. Pake perasaan, rumor, hasil bisik-bisik, klenik dan nujum.

Alasan perusahaan tidak menggunakan riset dan pengembangan

Riset kalaupun ada – dianggap cost center. Cuma jadi beban.

Di atas itu ada faktor ego. Gue penting karena keputusan gue yang gue ambil penting. Padahal selalu ada konsekuensi jangka pendek, menengah dan panjang – yang tidak selalu kongruen secara hasil dan manfaat.

Kongruen? Iya gue orang riset, demen pake bahasa susah…

kongruen adalah keadaan dua bangun datar yang sama dan sebangun. Semua bangun datar yang sebangun belum tentu kongruen, tetapi semua bangun datar yang kongruen sudah pasti sebangun. – Wikipedia

Dan bisa dibayangkan bagaimana Direksi suatu perusahaan menghadapi orang riset yang suka pakai cara ruwet dan bahasa susah? Tertamparlah ego mereka.

Dan seperti biasa: mereka akan menampar balik dengan bilang: “Tapi itu kan teorinya – prakteknya beda!”

Di Indonesia, orang riset sering sekali dicap “cuma tahu teori” oleh orang yang… nggak tahu teori – tapi egonya tersakiti.

Mereka lupa: semua teori dibangun dari kajian empiris.

Yaitu dari banyak sekali praktek di berbagai tempat dan waktu yang diambil prinsip dasarnya. Tapi ya sebagai orang riset – percuma juga menyampaikan itu ke orang yang nggak ngerti teori. Ribet.

Kayak menjelaskan mekanika newton ke tukang becak. Dan cuma akan semakin terinjak-injak harga diri mereka.

Jasa Outsourching untuk riset dan pengembangan

Dari hal seperti ini kemudian muncul kebiasaan jelek lain. “Kita outsourcing aja ke institusi luar” Tinggal bayar, suruh mereka meneliti dan kasih output rekomendasi.

Orang riset bisa kita pecat supaya nggak bikin ribet. Lagian kan kalau pake jasa McKinsey atau BCG kan jadi kelihatan keren. Bergengsi.

McKinsey & Company adalah perusahaan konsultan manajemen multinasional. Perusahaan ini menjadi konsultan dari 80% perusahaan terbesar di dunia dan dianggap sebagai salah satu perusahaan manajemen konsultan paling terkemuka. McKinsey didirikan pada tahun 1926 oleh James O.

Boston Consulting Group adalah perusahaan konsultan manajemen global yang memiliki 87 kantor di 45 negara. BCG didirikan pada tahun 1963 oleh Bruce D. Henderson dan dipimpin oleh Rich Lesser sejak 2013.

Sekali lagi ini soal ego. Lalu saat secara formal minta jasa McKinsey atau BCG, direksi terpukau oleh visualisasi yang ciamik, deretan kredensial PhD, MSc, MA, CFA, dan FRM (maaf kredential lain nggak cukup memukau) tibalah saat paling menentukan: penyodoran price list.

Apa yang terjadi? Direksi terkencing-kencing melihat angkanya.

Institusi seperti McKinsey dan BCG nggak akan pernah mau ngerjain proyek yang nilainya di bawah 1 Juta Dollar.

Mereka patuh sekali dengan prinsip yang berlaku di Pasar Glodok: “Ada harga, ada rupa”

Aduh tengsin juga Direksi udah panggil McKinsey tapi ternyata price list-nya mahal bingits. Mau ditawar – udahlah gengsi tetep mahal juga.

Maka mereka pun akan pakai jurus klasik para terdakwa sedunia: “Kita pikir-pikir dulu ya?”

Orang riset sejati udah tahu maksudnya apa.

Lalu berhamburlah segala excuse:

“McKinsey dulu pernah gagal waktu jadi konsultan AT&T karena nggak bisa meramalkan munculnya ponsel”

“Mereka kan ahlinya sesuatu yang ada di Amrik atau Eropa – Indonesia kan beda”

Itulah hasil ego yang kembali tertampar. Lalu yang terjadi Direksi kasak-kusuk cari konsultan lain yang lebih “ekonomis” dan “bersahabat”

Konsultan demikian sebenarnya paling menyebalkan: karena mereka biasanya setuju tarif lebih murah tapi kasak kusuk ke karyawan: “Direksi maunya hasil yang gimana?”

Konsultan seperti ini mengikuti prinsip “Demand Driven” secara sungsang. Kajian biasanya cuma skala desktop, comot angka sana-sini, tanya sana-sini.

Semua rekomendasi diselaraskan dengan selera Direksi. Tujuannya: direksi segera setuju dan invoice segera cair.

Saya menyebut konsultan seperti ini jasa “rental stempel” – mereka cuma menuliskan apa yang selera direksi, membumbui ini itu, lalu hasilnya dituang dalam presentasi dengan stempel cap mereka sebagai konsultan.

Kelas dunia sih, tapi tetap saja cuma rental stempel.

Riset dan Pengembangan di badan pemerintahan Indonesia

Di badan pemerintah – gambarannya suram.

Memang ada LIPI, Bappenas, dan BKF – tapi banyak Kementrian dan Lembaga juga punya bagian atau departemen bernama Litbang.

Harusnya sih singkatan dari Penelitian dan Pengembangan.

Kenyataanya? Singkatan dari “Sulit Berkembang

Banyak bagian Litbang di kantor pemerintahan bukan cuma diawaki orang-orang yang inkompeten – tapi sering terjadi berstatus sebagai tempat buangan.

Staf-staf bermasalah dilempar ke sana. Dan karena dianggap mengurusi teori – budgetnya pun ala kadar. Cuma cukup buat napas.

“Ngetwit panjang-panjang kok nggak ada ngebahas posisi berdiri secara politik sama sekali? Katrok ah”

Posisi gue jelas: Selama Kampanye 02 isinya ***sensor*** dan ***sensor*** – soal ***sensor***, ***sensor***, dan kumpulan ***sensor*** – arah menuju ***sensor***.

Maaf bagian akhirnya banyak yang di sensor, soalnya sensitif bahas politik. Tujuan dibikin post ini adalah menambah wawasan, bukan kebencian.

Sekian copasan thread tentang riset dan pengembangan ini, semoga bermanfaat ya!

 

Share this to your friends