Mengapa nilai tukar Lira Turki bisa nyemplung sedemikian dalam? Karena perbankannya lemah. Sekitar 47% simpanan masyarakat Turki di Perbankan Turki adalah dalam mata uang asing (USD dan EUR). Sementara kredit lokal yang disalurkan 38,9% dalam mata uang asing.

balance sheet turkey

Mengapa Perbankan Turki “nekad” begitu? Karena kredit dalam mata uang asing bunganya lebih rendah. Jadi tujuannya adalah untuk menghemat biaya bunga.

Mengapa sampai seberani begitu? Karena Turki punya hubungan dagang kuat dengan Eropa. Selalu berharap ada arus valas.

Masalahnya: Turki sangat bergantung pada minyak impor untuk menggerakkan ekonomi. Ketika harga minyak meningkat – neraca dagangnya (makin) tekor, lebih banyak yang harus dibayar dalam mata uang asing.

Lho, jadi Turki selama ini dagangnya selalu defisit? Iya. Lalu kenapa mata uangnya bisa bertahan cukup lama? Karena ada arus investasi ke dalam Turki. Hal ini yang sebenarnya menopang ekonomi Turki. Begitu arus ini menghilang, masalah muncul.

Ketika tingkat bunga internasional naik – maka beban bunga pinjaman di perbankan Turki pun naik. Kalau cuma ini saja sih nggak masalah, repotnya nilai tukar Lira pun melemah, sehingga perbankan Turki kena pukulan berganda.

Di negara yang mengalami “Dolarisasi” seperti Turki – maka perbankan Turki mengalami beberapa tekanan sekaligus: Bunga naik + Lira Turki melemah + ancaman masyarakat menarik pinjaman.

Kalau bunga pasar dinaikkan – maka kualitas pinjaman bisa tambah memburuk.

Begitu kredit macet meningkat – maka perbankan Turki harus meredam pertumbuhan volume kreditnya. Akibatnya? Pertumbuhan ekonomi akan terancam menurun dan makin memperparah kerusakan kualitas kredit.

Keadaan Turki sama seperti Krisis Indonesia pada Tahun 1998

Maka apa yang dialami Turki mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 dulu, di mana krisis ekonomi terjadi akibat lemahnya sistem perbankan. Kalau dulu Indonesia karena pengawasan lemah, sekarang Turki karena Dolarisasi ekonomi.

Gabungan berbagai hal tersebutlah yang membuat nilai tukar Lira Turki mengalami trajectory mirip krisis moneter Indonesia tahun 1998 – karena sama-sama mengalami pukulan di sisi perbankan dan sistem keuangan.

Kecukupan modal perbankan Turki juga rendah, jadi makin mirip dengan Indonesia tahun 1998.

CAR bank-bank besar di Turki hanya sekitar 12-16% dan masih akan terus menurun. Garanti Bank, salah satu bank terbesar Turki punya kredit bermasalah sampai 21%!

Keadaan ini amat kontras dengan perbankan Indonesia, yang simpanan dan kredit dalam mata uang asing relatif kecil. Perbankan Indonesia punya CAR yang relatif tinggi: sekitar 23% – dengan kredit bermasalah di bawah 3%.

Masalah lain yang juga membuat prospek Turki cenderung suram, adalah profil utang jatuh temponya – sebagaimana diagram di bawah ini. Porsi utang jatuh tempo di bawah 5 tahun sedemikian besar.

profil utang jatuh tempo

Bandingkan dengan profil utang jatuh tempo Indonesia yang jauh lebih terkonsentrasi pada jangka waktu di atas 5 tahun. Malah dominan di atas 10 tahun.

profil utang jatuh tempo indonesia

Pada keadaan ekonomi memburuk, volume utang jatuh tempo yang terlalu dekat – dapat memicu masalah likuiditas, apabila kreditur tidak mau melakukan roll over.

Dalam kasus Indonesia – kemungkinan itu relatif kecil.

Mudah-mudahan gambaran tentang ekonomi dan perbankan Turki ini bisa mencerahkan kita.

 

Thread bersumber dari https://twitter.com/hotradero/status/1037203412708941824
Share this to your friends