kesalahan berlogika ilustrasi

Kesalahan berlogika atau logical fallacy merupakan kesalahan seseorang dalam menyampaikan sebuah logika, alih-alih merasa sudah sesuai dengan logika, namun ternyata tidak, baik sengaja atau tidak disengaja.

Setiap hari, ada saja pedebatan yang ada entah di media sosial, maupun di kehidupan sehari hari. Tapi ternyata, tidak semua argumen yang keluar dari yang bersangkutan merupakan logika yang benar.

Tidak jarang mereka mengeluarkan logika yang ngaco, asal – asalan, atau bahkan tidak benar sama sekali. Masih bingung? Berikut ini adalah 10 contoh kesalahan berlogika yang sering ditemukan di kehidupan sehari – hari.

10 kesalahan berlogika / Logical Fallacy yang sering terjadi

  • Ad Hominem

Ad hominem ini adalah kesalahan logika ketika kita menyerang sosok pembawa argumen alih-alih argumennya. Kita memandang rendah pendapatnya hanya karena karakter personal yang kita anggap tak kredibel. Contoh:

A: “Jadi demikianlah paparan saya. Kita perlu menambah jumlah peternakan lele karena tingkat konsumsi yang tinggi.”

B: “CYBORG MANA NGERTI WOOOOYY”

Hanya karena A adalah sesosok cyborg yang di mata B tidak mengerti apa-apa, B menganggap bahwa argumen A tentang peternakan lele tidak dapat diterima. B tidak memberikan argumen balasan mengapa peternakan lele tidak perlu ditambah.

  • Slippery Slope

Slippery slope adalah kesalahan berpikir yang mengasumsikan bahwa kejadian A akan berdampak pada kondisi kondisi ekstrem.

“Bukannya mungkin ya?”

Ya, tapi yang jadi masalah adalah saat tak ada bukti. Orang yang melakukan slippery slope lebih mendasarkan pendapatnya pada emosi.

slippery slope

Contoh lain dari slippery slope adalah sebagai berikut:

‘Hari ini mereka minta X, besok mereka minta Y, pasti suatu hari nanti mereka akan melakukan Z! Untuk itu, jangan kasih mereka X!”

  • Red Herring

Red herring ini adalah kesalahan berpikir ketika seseorang membawa topik yang tidak relevan untuk mengalihkan perdebatan. Atau bahasa gaulnya ‘Ditanya apa jawabnya apa’.

Mengapa namanya red herring? Ini merujuk kepada ikan herring yang kalau dimasak akan berubah kemerahan dan berbau menyengat, mendistraksi perhatian.

Ini sering banget muncul ketika ada berita bencana atau peperangan.

A: “Mari galang dana, tunjukkan kepedulian kita untuk Wakanda”

B: “Ngapain kita sok ngurus Wakanda? Di Kuvukiland, saudara kita mati setiap hari!”

  • Strawman

Dari semua kesalahan logika,  strawman ini yang paling menyebalkan. Ia terjadi ketika kita salah menginterpretasikan argumen orang lain, lalu menyerang argumen tersebut dengan interpretasi kita yang salah tadi.  Atau bahasa gaulnya ‘melintir omongan orang’.

Pernah baca artikel-artikel dengan pembuka judul bombastis seperti “SKAKMAT!”, “TELAK!”, “BUNGKAM!” atau sejenisnya? Nah, hati-hati, bisa jadi banyak strawman di sana, apalagi kalau artikelnya berat sebelah.

Kesalahan argumen ini disebut strawman. Mengapa? Bayangkan kalian sedang marahan dengan A. Alih-alih mengkonfrontasi A secara langsung, kalian membuat “boneka jerami” untuk dipukuli sendiri, lalu kalian mengklaim menang berkelahi melawan A. Begitulah perumpamaannya.

Contoh:

A: “Pertama, kita perlu mengumpulkan bukti-bukti komprehensif agar pelaku dapat diganjar dengan setimpal.”

B: “Jadi kamu tidak suka pelaku dihukum? Kamu simpati dengan pelaku, pasti kamu bagian dari jaringan pelaku!”

Terus besoknya, pernyataan kita dipelintir lagi di media massa: “Telak! Orang ini bungkam seorang simpatisan yang menolak agar pelaku dipidana.” Nyebelin kan.

  • Tu Quoque

Istilah tu quoque ini diambil dari bahasa Latin yang berarti “kamu juga” Kesalahan logika ini membalas kritikan dengan kritikan juga.

Penyanggah merujuk kepada “kemunafikan” pembawa argumen, sehingga memunculkan anggapan bahwa argumen yang dibawa menjadi tidak valid.

Contoh: Kamu dikritik seorang teman karena menyontek esainya. Setelah itu, kamu balas kritikannya dengan mengungkit bahwa temanmu pernah menyontek di semester pertama.

Nah, tu quoque ini sering kita jumpai di postingan politik.

Biasanya begini:

“Woi, capresmu lho habis bikin kontroversi!”

“Halah, kaya junjunganmu nggak aja. Tuh kemarin ngehoax!”

“Junjunganmu raja hoax!”

“Situ juga!”

Muter di situ aja sampai capek.

  • False Dichotomy

False dichotomy adalah kesalahan berpikir yang menganggap bahwa hanya ada dua pilihan terhadap suatu kasus, walau nyatanya ada pilihan-pilihan lain di antaranya.

Nama lain false dichotomy ini adalah “black-white fallacy”

“Kalau kamu tidak dukung Jokowi, berarti kamu pendukung Prabowo.”

Padahal nggak sesimpel itu. Bisa saja dia apolitis, bukan warga negara Indonesia, kecewa karena calonnya nggak lolos, atau pendukung @nurhadi_aldo.

Sama seperti twit viral saya yang dulu mengatakan bahwa tidak memilih nikah dini belum tentu memilih zina dini.

Ada kemungkinan belum sanggup nikah karena lagi sibuk puasa, kuliah, kerja mbiayain keluarga, jadi shaolin, gabung ke Hydra, atau magang di Krusty Krab.

Buat yang belajar HI, pasti nggak asing dong dengan salah satu false dichotomy paling ampuh dua dekade belakangan ini:

“Either you are with us or you are with the terrorists”

  • Burden of proof

Kesalahan berpikir satu ini terjadi ketika kita membuat sebuah klaim, lalu mengatakan itu benar hanya karena pihak lain tidak mampu membuktikan kesalahannya.

Contoh:

A: “Michael Jackson masih hidup, yang meninggal pas 2009 kemarin itu cuma kloning.”
B: “Buathukmu.”
A: “Buktikan saya salah, kalau gak bisa berarti saya benar.”

  • Apeal to authority

Kesalahan logika ini terjadi ketika kita menganggap argumen kita benar hanya karena ia dikatakan oleh seorang yang berpengaruh.

Contoh:

A: “Bumi itu datar.”
B: “Ngawur. Belajar astronomi sana.”
A: “KAMU DIBOHONGI NASA! KATA CHANNEL FLET URF 101 ASUHAN GURUKU DIMAS KANJENG TAAT PRIBADI, BUMI ITU DATAR. TITIK!”

  • No true Scotsman

kesalahan logika ini terjadi ketika kita mengabaikan kritik dengan alasan bahwa ia termasuk pengecualian. Apa hubungannya dengan orang Skotlandia? Ternyata ini ilustrasi historisnya:

A: “Orang Skotlandia nggak makan bubur pakai gula”
B: “Lha, pakde saya makan bubur pakai gula dan dia orang Skotlandia”
A: “Ha berarti dia bukan orang Skotlandia asli

Jadi, no true scotsman adalah kesalahan logika yang dibangun atas respons kita terhadap pembuktian klaim yang tidak sesuai.

Sering dijumpai? Ya. Biasanya ini dilakukan atas dasar “cuci tangan” apabila terjadi sesuatu yang merugikan citra suatu kelompok.

Y: “Golongan kami tidak pernah melakukan kekerasan.”
Z: “Kemarin saya digebukin sama anggotamu.”
Y: “Berarti dia bukan golongan kami, hiya hiya.”

  • Anecdotal

Kesalahan logika anecdotal terjadi ketika kita menyanggah argumen orang dengan pengalaman pribadi kita tanpa didasari argumen valid.

Mengapa ini bermasalah? Tentu saja karena pengalaman setiap orang berbeda-beda dan tak dapat menjadi tolok ukur kebenaran yang dapat dibuktikan secara umum. Ia juga tidak membahas inti masalah, namun hanya mengubah fokus.

Contoh paling sering dijumpai sehari-hari ya apa lagi kalau bukan soal rokok.

Banyak orang menyanggah bahaya rokok dengan alasan “mbah saya tetap sehat” dan sejenisnya, tapi itu tidak membatalkan riset-riset yang disepakati mengenai bahaya tembakau.

Nah, itu dia tadi 10 kesalahan berlogika atau logical fallacy yang sering banget terjadi dan sangat menyebalkan ya, geng?

Oh iya, tulisan ini diambil dari thread twitter Ario Bimo disini >> https://twitter.com/ariomazda/status/1090882065145327616