Finally, MAHAMERU!

Pendakian Gunung Semeru Mahameru adalah dataran tertinggi di pulau jawa. Maha artinya megah, dan meru artinya Gunung dalam bahasa jawa. Terletak di Puncak Gunung Semeru di ketinggian 3676 Mdpl.

Gunung Semeru sendiri berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Malang, Jawa Timur. Gunung yang ‘tenar’ akibat sebuah film ini menjadi salah satu favorit para pendaki karbitan.

Padahal, untuk pemula, apalagi untuk anak-anak gahoel nan mentereng yang biasa nongkrong di mall, Gunung ini seharusnya menjadi gunung yang ‘menakutkan’, Jangankan untuk mereka, bahkan para pendaki senior pun enggan mendaki gunung ini tanpa persiapan yang benar-benar matang. Well, inilah perjalananku~

Mahameru

Saya yang sudah siap sejak 3 bulan yang lalu berangkat ke rumah Dansa berbarengan dengan Genta yang diantar Ayahnya.

Kami disetting satu team dalam pendakian, yang artinya, kami adalah salah satu kelompok kecil dalam kelompok besar pendakian.

Dirumah dansa, kami semua mempacking ulang cariel kami yang masih agak kosong. Lalu kami diantar oleh Ibundanya Dansa menuju Stasiun Pasar Senen.

Di St Pasar Senen, sudah ada Tujo, Afif, Mellisa, Aisha, Ulli, Kiram dan Indra yang sedang menunggu kami dan Atiqa yang agak ‘ngaret’.

Setelah semua berkumpul, Tiket kereta dibagikan. Berhubung kami masih punya waktu sebelum kereta berangkat, kami semua memenuhi kebutuhan untuk bekal di kereta nanti.

Kereta Matarmaja jurusan Jakarta Pasar Senen – Malang pun datang. Kami semua bergegas menuju gerbong 8. Oh ya, Mas Teguh dan Lintang tidak satu kereta dengan kami. Mas Teguh berangkat dari Bandung, dan Lintang berangkat dari Jogja.

Formasi duduk kami sangat rapi, Saya duduk disebelah dansa dan di depan Ulli dan Mellisa di kursi 4. Tujo, Aisha, dan Atiqa dibelakang saya dengan kursi 4 pula.

Genta, Afif, Kiram dan Indra disebelahnya dengan kursi 6. Saya sengaja tidak minta pindah kursi agar kami bertiga (Saya, genta, dansa) disatukan, Tujuannya agar kami lebih akrab dengan orang-orang yang akan mendaki bersama kita.

Dan ternyata mereka adalah orang-orang yang asik dan sedikit gila :)) Apalagi Ulli dan Mellisa, saya yg duduk didepannya langsung akrab dan sempat bermain kartu di perjalanan.

16 Jam perjalanan. Matarmaja sukses membawa kami semua ke Stasiun Malang. Jam 9 Pagi kami sampai di St Malang. Disana sudah ada Lintang yang sejak pagi-pagi sekali sudah sampai.

Kami menyantap makan siang di depan stasiun Malang, sambil menunggu Tujo mencari Angkutan menuju Tumpang.

45 Menit sudah cukup bagi supir angkot untuk membawa kami ke Tumpang, Markas Perhutani. Disana kami kembali packing, sambil menunggu Jeep yang akan membawa kita ke Ranu Pane, lagipula masih banyak sekali barang bawaan yang belum masuk kedalam carier.

Jam 1 siang, Pak Giono, pengemudi Jeep kenalannya Tujo datang dan langsung mengangkut kami semua.

carteran tumpang

2 orang duduk didepan dan sisanya berdiri dibelakang. Hembusan angin plus udara dingin seperti yang diceritakan orang-orang menemani 90 menit perjalanan kami Menuju Ranu Pane.

Disana Tujo dan Afif melengkapi administrasi, sedangkan sisanya menunggu di pos sekalian makan-makan. Ada banyak pedagang makanan disana, mulai dari Bakso malang, nasi goreng, mie goreng dll.

ranupani

Tak lupa kami mengikuti Sosialisasi tentang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang diadakan oleh para relawan semeru di Information Center.

Mereka menjelaskan bagaimana SOP yang baik dan benar, bagaimana jalur pendakian yang akan kami tempuh, dan bahaya apa yang sedang menunggu kami. Terimakasih banyak, bang!

Selesai Sosialisasi, Kami semua bersiap, karena waktu sudah menunjukkan jam 5 Sore kala itu. Kami tak ingin terlalu larut malam sampai di Ranu Kumbolo. Setelah berdoa, kami berfoto full team yang pertama kali, daaan, Here we Go!

pendakian gunung semeru

Pendakian Gunung Semeru Dimulai!

Jalur datar dan masih ber-conbloc menemani kami sampai di pos 1, begitupun sampai ke pos 2, meskipun tidak terlalu banyak.

Barulah dari pos 2 ke pos 3 kami tidak berjumpa lagi dengan conbloc dan jalur agak menanjak. Banyak sekali longsoran longsoran disana.

Di perjalanan menuju pos 4 atau Ranu Kumbolo, kami dipertontonkan oleh keajaiban yang pertama. Jika kita biasanya melihat Sun-Rise, kali ini Moon-Rise yang menemani perjalanan kami. Masya Allah.

Saya berjalan paling depan, Dansa dibelakang saya, dan tak terasa, rombongan lain jauh tertinggal dibelakang. Dansa agak panik, otomatis saya tidak boleh panik, meskipun saya panik, setidaknya saya tidak boleh menunjukkannya.

Saya meyakinkan dansa, bahwa ini memanglah jalur yang benar. Hampir 30 menit kami berdua jalan dengan penuh kekhawatiran ditengah hutan.

Dan Ranu kumbolo muncul, kami berdua pun lega, dan memutuskan menunggu rombongan lain di sekitar shelter.

Ternyata mereka berjarak 20 menit dibelakang kami, lalu kami semua pun berjalan menuju tempat dimana kami akan mendirikan tenda,

Ranu Kumbolo malam itu sangat beku. Saya tak sanggup menggerakkan jari-jari tangan saya. Tidak berlebihan, memang sangat dingin sekali malam itu.

Ranu Kumbolo adalah sebuah danau, sesuai namanya ‘Ranu’ yang dalam bahasa jawa berarti ‘Danau’. Sedangkan ‘Kumbolo’ berasal dari sebuah legenda.

Konon, ada seorang ibu hamil yang tidak sengaja memakan ikan mas ajaib yang sisiknya emas murni, sampai akhirnya melahirkan anak yang diberi nama Kumbolo.

Kumbolo lahir dengan sirip seperti ikan di tubuhnya. Suatu hari, Kumbolo berniat mengambil mutiara yang ia lihat di Puncak gunung Semeru.

Tapi, diperjalanan pulang, mutiara yang ia ambil dirampas oleh 3 orang. Berusaha mengelak, mutiaranya pun jatuh kedalam tanah dan anehnya dari dalam tahan tersebut keluar mata air hingga menjadi sebuah danau.

Orang tua Kumbolo yang khawatir karena anaknya lama sekali pulang menyusuk ke Gunung Semeru, ditengah perjalanan, mereka dikejutkan dengan sebuah danau dan anak mereka, Kumbolo mengapung diatasnya dengan sirip yang sudah sepenuhnya menghilang.

Dan mulai hari itu, mereka memberi danau tersebut ‘Ranu Kumbolo’. Percaya atau tidak, namanya juga legenda 🙂

Setelah semua tenda berdiri, kami semua masuk kedalam tenda masing-masing. Saya, Genta, Dansa, dan lintang di dalam satu tenda.

Malam itu saya yang ambil alih dapur, khusus untuk penghuni tenda kami yang sudah menggigil. Hanya indomie yang bisa saya masak malam itu, karena sayapun kedinginan hebat-,-

Tenda kami berada tepat sekali di depan cekungan Ranu Kumbolo, sehingga saat Sun-Rise tiba dan kami membuka pintu tenda yang membeku, inilah yang kami lihat.

ranu kumbolo

Kami tak berani keluar pagi itu. Karena semua rumput membeku. Saya memasak airhangat dari dalam tenda. Kopi dan Susu pun tersaji untuk mereka yang masih terlelap.

Matahari pun menunjukkan diri. Dan saya pergi keluar tenda bermodalkan matras, untuk masak makanan kami semua.

Di tenda sebelah, ada Grup ibu-ibu pkk (Aisha, Atiqa, Ulli) yang sangat ahli memasak. Sehingga menu kami tak ada apa-apanya dibandingkan mereka-,-

ranu kumbolo lagi

Sudah kenyang, kami bersiap untuk kembali mendaki menuju Kalimati. Sekitar tengah hari kami baru mulai berjalan.

Rintangan yang pertama kami hadapi adalah Tanjakan Cinta, kenapa namanya tanjakan cinta? Kalian pasti sudah tahu 🙂

Setelah melewati Tanjakan Cinta yang lumayan menguras tenaga. Pandangan saya kembali dimanjakan oleh oro-oro Ombo dengan Mahameru yang sedikit mengintip.

Oh iya, Oro-oro ombo adalah sebuah Savana yang katanya itu adalah Savana Lavender. Tapi masih jadi perdebatan apakah itu benar-benar lavender atau bukan.

Sebenearnya oro-oro ombo itu berwarna Ungu pada puncak berseminya. Sayangnya puncak berseminya itu hanya pada musim penghujan, atau pada bulan april/mei.

Disarankan untuk yang ingin melihat oro-oro ombo berwarna ungu, mendakilah pada bulan itu.

Ditengah perjalanan menuju kalimati, kami melihat pendaki yang digotong oleh para ranger. Ada tulangnya yang patah ketika mendaki mahameru dan tertimpa batu.

Total 4 Jam perjalanan barulah kami sampai di Kalimati, dari sinilah baru Mahameru terlihat sangat jelas. Jelas sekali.

Kalimati adalah Pos terakhir berlakunya asuransi kita. Dari sini pihak TNBTS tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.

Kalimati adalah sebuah ladang kering yang luas disertai Edelweis yang mengelilinginya, terbentuk dari Lava pijar Semeru yang konon pernah lewat sana.

Karena stok air kami menipis, Tujo mengajak kami menuju Sumbermani, Sumber air yang jaraknya satujam perjalanan pulang pergi dari kalimati.

Saya tidak ikut ambil air, saya sibuk membuat makanan dan bekal untuk Summit tengah malam nanti. Disini, tidak ada kata santai, semua harus sudah istirahat setelah gelap, karena kami akan memulai pendakian yang sesungguhnya tengah malam nanti.

Jam setengah 12 malam, saya bangun untuk menghangatkan bekal yang kami akan bawa. begitu pula dengan team kami.

Kalimati lebih ramah dibanding Ranu Kumbolo, tentu saja suhunya. Di Kalimati kami lebih terlindungi oleh pepohonan besar sehingga dingin tidak telalu menusuk.

Setelah semuanya siap, Kembali Doa kami ucap, agar selamat dan dijauhkan dari segala bahaya yang menanti hingga sampai di Rumah.

Satujam pertama, kondisi kami berdua masih ok. Begitupula pada jam berikutnya, sampai akhirnya Dansa kualahan. Ia mengeluh perutnya sakit sejak di Kalimati. Dia minta untuk istirahat minum.

“Lung, duduk dulu yaa, mau minum”

“Okee, santai aja.”

Kami berdua melanjutkan pendakian. Belum sampai 15 menit, Dansa kembali minta istirahat.

“Lung, maaf ya duduk mulu.”

Saya bingung, Dansa yang tidak pernah mengeluh selama mendaki bersama saya, kali ini dia kualahan. Memang, jalur pendakian Mahameru luar biasa sulit.

10 menit sekali kami duduk, sampai dipertengahan perjalanan, kami disajikan pemandangan yang sangat luar biasa!

samudera di atas awan

Itu dia, Samudera diatas awan yang sering sekali dibicarakan 🙂

Angin sudah mulai menipis, udara sudah agak hangat, saya semangat lagi, berbeda dengan Dansa yang sudah benar-benar kualahan kala itu.

Sesekali saya bertanya, “Dans, kuat ga? mau turun?” dengan sigap ia berkata “ENGGA!”

Kemudian saya kembali bertanya, “Sebenernya, lu tuh Cape, sakit, apa stress sama jalurnya sih?”. Kembali dengan sigap “SEMUANYA!!!! Gak kuat gue! tapi gue harus muncak! gue udah jauh-jauh sampe sini!”

Jalan 15 menit, duduk 10 menit, terus begitu terus. Sesekali kami bertanya kepada pendaki yang turun, “Masih Jauh mas! 3 jam lagi!”. Saya mulai stress dengan jalurnya. Sayapun ikut ‘Boyor’.

“Lung, puncaknya mana siih?”

“Itu tuuh, yang batu gedee, abis itu puncak.” Jawab saya sambil menunjuk batu yang sebenarnya tidak terlalu jauhm tapi butuh satu jam menuju sana.

“Lung, manaa, katanya puncak udah deket?”

“Gue juga ga tau dans. Udah jalanin aja. Itu kali tuh.” Saya menunjuk asal, agar dia tidak down.

“Ah lama banget, Gue gakuaat” Kemudian ia terlentang-,- Saya membiarkannya begitu, karena saya tahu, ia masih semangat sampai ke puncak. Dia hanya butuh istirahat.

Setelah itu, Saya membangunkannya yang setengah tertidur. “Dans ayo! kalo begini mah mau 12 jam juga ga akan sampe!”

Kemudian ia bangun dan mengulurkan tangannya. “Tarik gue tolong.”

Saya menariknya, kurang lebih satu jam dan sampailah kami di puncak Mahameru. Sebuah dataran tertinggi di Pulau Jawa.

Angin bertiup sangat kencang disana. tak ada perlindungan, badan kamilah yang harus menahan angin itu sendiri.

Tak lama, Lintang menyusul, kemudian genta. Kami semua terduduk, menahan angin dan menikmati Mahameru seadanya. Disusul Aisha, Atiqa, Tujo, dan Kiram.

MAHAMERU

Kami menunggu anggota kelompok yang belum sampai hingga jam 10. Saya dan dansa memutuskan untuk turun lebih dulu karena sudah terlalu lama kami di puncak. Tidak lama, Ulli dan Afif sampai di Mahameru.

Perjalanan Turun Berbeda sekali dengan naik. Jika naik kita membutuhkan 4-6 jam, Turun hanya menbutuhkan 30 menit!

Begitulah cerita tentang pendakian gunung Semeru yang saya alami. Mohon maaf apabila terkesan “Kentang”, soalnya ini belum sempat di edit. Doakan agar bisa melanjutkan cerita hingga sampai rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *