fbpx
Bagikan

Take over kredit merupakan salah satu cara jual beli mobil bekas ataupun baru. Dikutip dari situs CekAja, skema ini merupakan usaha pengambilalihan kepemilikan dan pembayaran sebuah kendaraan ke pihak lain yang diawasi oleh lembaga finansial (misalnya leasing), dengan ketentuan berdasarkan hukum yang berlaku.

Bagi debitur lama, pelaksanaan sistem tersebut bisa membuatnya lepas dari kewajiban untuk membayar cicilan mobil karena ketidaksanggupannya. Sedangkan bagi debitur baru—atau orang yang mengambil (take over) kredit, sistem ini menguntungkan secara finansial sebab ia hanya perlu melanjutkan sisa angsuran debitur lama, dan segelintir biaya administratif lainnya.

Sayangnya, banyak orang yang merasa bahwa take over kredit yang dilakukan secara legal akan membutuhkan waktu lama. Dari mulai proses pengajuan take over kredit ke leasing, proses analisa leasing terhadap calon pembeli, dan sebagainya. Inilah yang membuat banyak penjual memutuskan untuk melakukan transaksi take over kredit di bawah tangan. Padahal cara ini sangat berisiko, dan berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Risiko Melakukan Take Over Kredit di Bawah Tangan

  1. Debitur masih bertanggung jawab dengan cicilan kendaraan. Di atas memang dijelaskan jika debitur sudah tidak diwajibkan lagi membayar cicilan ketika sudah menyerahkan pembayaran cicilan pada pihak ketiga. Sayangnya, jika pihak ketiga tidak membayarkan cicilan seperti yang sudah ada dalam perjanjian maka Anda selaku debitur masih memiliki tanggung jawab. Anda harus tetap membayar cicilan tersebut sampai utang kendaraan lunas pada pihak leasing.
  2. Debitur dituntut oleh pihak leasing. Biasanya, take over kredit yang dilakukan di bawah tangan hanya melibatkan dua belah pihak saja, yakni debitur dan pihak ketiga. Pihak leasing tidak dilibatkan karena dianggap memakan waktu lama hanya untuk pemindahan nama dari debitur ke pihak ketiga. Padahal, melakukan pelanggaran seperti ini sangat melanggar hukum dan sebagai debitur Anda bisa dituntut oleh pihak leasing. Anda berkemungkinan diwajibkan membayar kerugian yang ditimbulkan sekaligus melunasi semua cicilan yang masih tersisa.
  3. Pihak ketiga menyerahkan pembayaran cicilan pada debitur lainnya. Bukan tidak mungkin, pihak ketiga melakukan pemindahtanganan pembayaran cicilan kepada debitur lainnya. Maksudnya, setelah dilakukan perjanjian dengan pihak ketiga, selanjutnya pihak ketiga tersebut malah menyerahkan pembayaran cicilan pada debitur lainnya. Jika debitur tersebut tidak bisa melunasi cicilan dan masih atas nama Anda, maka Anda pun diwajibkan untuk membayar cicilan.

Itulah beberapa risiko yang mungkin timbul jika Anda berani melakukan take over kredit di bawah tangan. Jangan sampai Anda melakukan hal yang melanggar hukum dan selalu libatkan pihak leasing ketika berencana mengambil take over kredit agar nantinya tidak dituntut.

Bagikan