pancasila

Indonesia adalah negara dengan segala macam keberagamannya. Tidak hanya beragam agama, Indonesia juga memiliki beragam suku, ras, bahasa, dan adat istiadat yang di masing-masing daerah berbeda antara satu dengan yang lain.

Keberagaman itu tumbuh subur dan semua warga masyarakat mengamini keadaan tersebut. Tentunya menyatukan segala macam perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing suku atau juga agama tidaklah mudah.

Bukan hal sepele dalam mengajak orang menghargai apa yang tidak diyakininya. Dan bukan hal mudah pula menjaga agar tenggang rasa tetap digalakkan oleh warga di seluruh Indonesia.

Maka, kita harus berterimakasih kepada para pendahulu bangsa yang telah melahirkan Pancasila sebagai ideologi bangsa ini. Dengan adanya Pancasila, kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dapat tetap diupayakan.

Pancasila tidak lahir begitu saja. Ia memiliki sejarah panjang yang juga berkaitan dengan perjuangan Indonesia untuk merdeka dari penjajahan.

Sejarah Panjang Pancasila

ir soekarno
Sumber: Dewa Vektor

Soekarno yang merumuskan Pancasila bersama dengan beberapa tokoh lain pada saat itu berulang kali berdebat untuk menyajikan rumusan Pancasila yang dapat digunakan dan diaplikasikan di Indonesia.

Sebenarnya juga rumusan Pancasila yang ada saat ini tidak semata-mata hadir dalam bentuknya yang demikian. Ada sejarah panjang yang menyertainya.

Misalkan saja di sila pertama, dulu setelah mengalami perdebatan panjang, sebelum menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ sempat dirumuskan dengan ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Jika saja sila pertama tidak diganti dan tetap pada putusan awal, bagaimana jadinya dengan agama-agama lain yang juga tinggal dan berkembang di Indonesia?

Islam memang merupakan agama yang mayoritas, akan tetapi Indonesia adalah negara yang bhineka, maka jika sila pertama tidak diganti, ditakutkan akan terjadi perpecahan sehingga justru mengancam kesatuan dan persatuan negara kesatuan republik Indonesia.

Maka setelah perenungan panjang, sila pertamapun diganti dengan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Di mana setiap agama memang meng-Esakan Tuhan, sehingga sila ini cocok digunakan di negara yang memiliki banyak agama dan kepercayaan ini.

Pada tanggal 29 Mei 1945, BPUPKI atau Badan Penyelidik dan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia memulai untuk mengadakan sidang untuk merapatkan sekaligus merumuskan dasar negara Indonesia pada saat itu.

Anggota sidang berjumlah 9 orang yang terdiri dari Hatta, Soekarno, Agus Salim, AA Maramis, Wahid Hasyim,  A. Subardjo, Moh. Yamin, dan beberapa nama yang lain.

Para anggota rapat tersebut menyampaikan masing-masing buah pikirannya. Seperti Moh Yamin yang menyampaikan gagasannya, yakni Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.

Begitupun dengan M. Soepomo yang juga menyampaikan gagasannya secara lisan dan tertulis. Namun, sejak sidang hari pertama sampai pada 31 Mei, tidak ada tanda-tanda keputusan final atas hasil rapat tersebut.

Sehingga pada tanggal 1 Juni, Soekarno yang diberi amanat untuk memberikan gagasannya, menyampaikan dalam pidatonya terkait Pancasila.

Fakta di Balik Hari Lahir Pancasila

Sebagai warga negara yang baik, tentunya Anda sudah mengetahui lima sila yang termasuk dalam Pancasila. Selain itu, Anda juga pasti paham terkait seluk beluk Pancasila mulai dari sejarah diciptakannya sampai saat ini.

Jika dikulik lebih dalam, ada beberapa fakta-fakta yang jarang disorot di balik hari lahir Pancasila. Adapun fakta-fakta tersebut antara lain:

 

  1. Ada 33 Pembicara pada Rapat BPUPKI

Sejak tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni nyatanya tidak hanya dihadiri oleh 9 orang yang menjadi poros sidang. Akan tetapi lebih dari itu, ada sekitar 33 pembicara dari seluruh provinsi di Indonesia sebagai perwakilan.

sidang bpupki

33 pembicara tersebut menjadi saksi adanya berdebatan panjang dalam merumuskan sebuah dasar negara yang akan menjadi tonggak dan jalan dari kebangkitan Indonesia kedepannya.

Meskipun hanya beberapa orang saja yang memberikan gagasan dalam bentuk lisan dan tulisan, namun semua gagasan itu adalah hasil dari perenungan panjang agar seluruh rakyat Indonesia bisa tercakup di dalamnya, tanpa terkecuali.

 

  1. ‘Lahirnya Pancasila’ diambil dari Judul Pidato

Kita semua tentu tahu bahwa pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno diberi mandat menyampaikan gagasan dalam pidato kebangsaan terkait perumusan dasar negara republik Indonesia.

Dalam pidato yang katanya tanpa teks tersebut, Soekarno memberi judul pidatonya dengan Lahirnya Pancasila.

Pidato tersebut memang sengaja disampaikan pada hari terakhir sidang penetapan dasar negara. dalam pidatonya tersebut, Soekarno menyampaikan beberapa gagasan penting yang menjadi punjer atau akar dari adanya butir-butir Pancasila yang masih diterapkan hingga saat ini.

Dasar-dasar itu antara lain menyoal kebangsaan, internasionalisme, dasar mufakat, perwakilan dan permusyawaratan, kesejahteraan bagi rakyat, dan yang terakhir adalah dasar ketuhanan.

Soekarno mengungkapkan bahwa dalam kelima dasar tersebut merupakan cerminan dari kehidupan bermasyarakat rakyat Indonesia.

Sehingga penerapan nilai luhur Pancasila yang diharapkan tidak akan jauh-jauh dari nilai-nilai atau kebiasaan yang sudah mengakar di sanubari rakyat Indonesia.

Selain itu ada alasan khusus kenapa yang dipakai kemudian bukan Panca Dharma melainkan Pancasila.

Ini karena sebenanya Pancasila sudah ada di dalam kitab-kitab terdahulu. Panca yang berarti lima dan sila yang mengandung arti asas ternyata berasal dari bahasa Sansekerta.

Tentu pemilihan Sila bukannya Dharma mengandung filosofinya sendiri.

Para pendiri bangsa ini telah dengan sangat hati-hati menempatkan kata per kata dalam rumusan dasar negara agar dikemudian hari seperti saat ini, tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan yang menguntungkan sebagian pihak dan justru madharat untuk kaum yang lemah.

 

  1. Ada 5 dokumen yang berisi penetapan dasar negara

Tidak main-main, penetapan rumusan dasar negara Pancasila ini ternyata termaktub dalam lima rumusan. Rumusan yang pertama yakni ada dalam piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945, kemudian rumusan yang kedua terletak pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yakni tanggal 18 Agustus di tahun yang sama.

Rumusan yang ketiga termaktub dalam Mukaddimah Konstitusi RIS atau Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember tahun 49, selanjutnya pada rumusan yang keempat termaktub dalam Mukaddimah Undang-undang Sementara yang disahkan pada tanggal 15 Agustus 1950.

Dan yang terakhir yakni rumusan yang kelima, yang merujuk Dekrit Presiden tahun 1959 yakni menyatakan bahwa rumusan pertama menjiwai pada rumusan yang kedua dan adalah satu kesatuan dalam konstitusi.

 

  1. Ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional

Sejak 2016, Presiden Joko Widodo telah menetapkan bahwa setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila dan dijadikan hari libur nasional.

presiden jokowi menetapkan tanggal 1 juni sebagai hari libur nasional
setkab.go.id

Ketetapan ini mulai berlaku pada tahun selanjutnya, yakni tahun 2017 dimana untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Juni di tahun itu diperingati sebagai hari libur nasional.

Penetapan ini dilakukan oleh Presiden Jokowi guna mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada ideologi bangsa yakni Pancasila.

Karena tanpa adanya Pancasila, negara ini tidak akan berdiri dengan damai, aman dan tenteram. Pancasila menjadi salah satu wujud kesatuan dan persatuan bangsa lewat adanya keberagaman.

 

Seperti yang dikatakan bapak negara kita, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, tulisan ini dibuat untuk mengulas kembali sejarah tentang hari lahir pancasila. Terimakasih telah membaca, kurang dan lebihnya kami mohon maaf.

Salam Teknologi!

 

Share this to your friends