Ruang Isolasi Terbuka, Argopuro 3088Mdpl!

argopuro

Gunung Argopuro (3088 Mdpl), merupakan puncak tertinggi di kompleks pegunungan Hyang. Argopuro merupakan gunung dengan trek terpanjang di ranah Jawa.

Selain menjadi yang terpanjang, Argopuro juga menjadi gunung yang paling terisolasi karena panjangnya jalur pendakian dan minimnya jumlah pendaki yang berminat menyambanginnya.

Hutan-hutan di gunung ini masih sangat alami dan sangat rapat, Anda bisa dengan sangat mudah menemui hewan-hewan liar seperti Monyet, ular, burung, babi, dan bahkan jika Anda beruntung, Anda bisa melihat burung Merak melintas di depan mata kepala Anda!

Tulisan catatan perjalanan gunung argopuro ini akan sedikit panjang, mengingat jalur pendakian yang sangat panjang dan memakan waktu hingga 5 hari 4 malam.

Ditulisan ini pula akan memberi tips mendaki pegunungan hyang yang aman dan nyaman. Tentu saja akan ada bonus foto-foto untuk memanjakan mata!

Kami Merencanakan pendakian ini sejak kami turun dari Mahameru, Agustus 2015 silam. Awalnya hanya rencana-rencana basi karena belum bisa move on dari pendakian mahameru, tapi saya pun kurang paham kenapa pendakian ini benar-benar terjadi :))

Catatan Perjalanan Gunung Argopuro

Chapter 1 (Waktu adalah waktu, uang adalah uang)

Berangkatlah saya dari rumah menuju rumah Dansa yang ternyata masih tidur syantieq dan ga akan bangun jika saja saya tidak bangunkan waktu itu.

Kami berangkat menggunakan jasa Kereta Api Gaya baru malam relasi Pasar senen – Surabaya Gubeng yang sudah kami pesan 2 bulan sebelum keberangkatan seharga Rp 106.000,-

Kereta berangkat tepat 20 menit setelah kami tiba di stasiun, terimakasih banyak untuk dansa yang membuat saya berlarian untuk mencetak tiket tersebut 🙂 Walhasil kami TIDAK membeli snack apapun termasuk minuman untuk di dalam kereta 🙂 selamat berpuasa~

Tips 1: Jangan datang ke stasiun dengan jam karet jika tidak ingin berpuasa di dalam kereta :). Jangan lupa cetak tiket jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Puasa kami tak bertahan lama, di stasiun Cirebon Prujakan kereta berhenti agak lama, disitulah ‘Adzan Magrib’ kami.

Kami duduk satu komplek dengan satu keluarga yang hendak pulang kampung ke kutoarjo. Sebenarnya, kursi mereka telah dipesan oleh tim kami yang berangkat dari Jogja.

Kami udah berekspektasi kami akan bisa tidur2an di kereta karena kursi yg berhadapan dengan kami telah kami pesan… skip~

Untungnya mereka memiliki anak kurang dari 2 tahun yang menjadi ‘hiburan’ kami, paling tidak sampai mereka tiba di kutoarjo.

Chapter 2 (Rumah makan Padang dimana ya?)

Kami Tiba Di Stasiun Surabaya Gubeng Tengah malam, sekitar pukul 02.00. Sesuai arahan senior kami yang sudah lebih dulu ke Argopuro, kami disarankan menunggu bus DAMRI sampai jam setengah tujuh untuk menuju ke terminal Purabaya.

Kami menurutinnya dan sangat menyesal :)) Ternyata untuk menuju terminal Purabaya tidak harus naik bus DAMRI. Salah kami juga yg tidak bertanya kepada warlok (Warga Lokal).

Kami naik Angkutan Kota berwarna kuning dan berkode “F” yang melintas di depan stasiun Surabaya Gubeng. Biayanya Rp 70.000 untuk 5 orang, jatuhnya kami carter angkot.

Jika saja kami sabar menunggu DAMRI, biaya bisa lebih murah, yaitu Rp 5000 per kepala.

Tips 2: Jika ingin ke terminal Purabaya, jangan turun di Stasiun Surabaya Gubeng, disarankan turun di stasiun Wonokromo, karena Angkot kuning F pun lewat stasiun tersebut. Jadi, bisa lebih murah dan dekat 😀

Diterminal Purabaya, kami bertemu dengan Jodi. Ia baru konfirmasi kalo dia ikut pendakian ini pas hari H, makanya saya beri dia peran Figuran Utama, Lho kok Figuran Utama?

Sementara yang lain sedang menyantap sarapan mereka, saya dan Jodi Mencari bus relasi Surabaya – Situbondo. Dan ternyata bus relasi tersebut tidak ada, yang ada adalah Surabaya – Banyuwangi, yaitu PO AKAS.

Karena tujuan kami adalah Besuki, maka kami harus transit di Probolinggo dengan PO AKAS. Harganya sampai ke Besuki RP 27.000.

Terminal Besuki kala itu sangat panas, kami tiba disana tengah hari. Banyak sekali yg menawarkan tumpangan menuju Baderan, tidak gratis tentunya.

Ada yg menawarkan ELF kapasitas 10 orang dengan harga Rp 250.000, adapula Ojek seharga Rp 35.000 per kepala. Sambil menimbang-nimbang kendaraan mana yangg terbaik, kami menyantap Rawon terlebih dahulu.

Kemudian kami melengkapi logistik yang belum sempat terbeli. Oh iya, di Sekitar terminal Besuki ada Indomart dan Alfamart, tapi keduanya tidak menjual Frozen food. Untungnya ada pasar tradisional di sebelah Terminal. God save the king~

Tips 3: Jika ingin membawa frozen food untuk logistik pendakian, jangan di Besuki, karena frozen food yang ada memiliki kualitas dibawah rata-rata. Ada baiknya membeli dari kota asal. Satu lagi, Jangan berharap menemukan RUMAH MAKAN PADANG di Besuki.

Logistik lengkap, perut kenyang, barulah kami bisa berfikir jernih. Kami ambil tawaran sang tukang Ojek.

Perjalanan menuju Basecamp Baderan menggunakan Ojek memakan waktu kurang lebih 45 menit. Yang artinya kami harus menggendong carrier selama 45 menit di jalan yang menanjak sampai-sampai pundak mau copot.

Basecamp Baderan sangat kecil, paling hebat hanya bisa menampung 5-10 orang calon pendaki Argopuro untuk beristirahat disana.

Untungnya ada rumah warga yang sangat baik, dan ada mushola di dekatnya, jadi kami bisa beristirahat disana.

Chapter 3 (Naik gunung! bukan naik ojek!)

Kantor registrasi Baderan baru mulai melayani sekitar jam 08.00. Biaya registrasi untuk pendakian gunung Argopuro dari Baderan adalah Rp 20.000/orang/hari ditambah lagi biaya materai dan sejenisnya.

Di Baderan, ada juga penjual nasi bungkus di dekat pangkalan ojek. Harga perbungkusnya Rp 6000 kalau tidak salah, jadi kami masih bisa sarapan terlebih dahulu sebelum memulai pendakian.

Ngomong-ngomong pangkalan ojek, para pendaki biasanya ditawari naik ojek oleh para drivernya sampai ke Makadam atau sampai Ke pos mata air 1, Bahkan ada yang sampai Cikasur!

Kami berfikir sejenak, mau naik ojek atau tidak. Tapi setelah kemarin naik ojek untuk sampai ke Baderan, kami rasa kami kapok untuk naik ojek sambil gendong carrier. Lagipula, kami kesini untuk naik gunung, bukan naik ojek 🙂

Jalur pendakian yang kami lewati adalah makadam, atau con-block. Sebenarnya bukan con-block, semacam batu kali yang ditata untuk memudahkan para petani memanen hasil kebunnya.

Dikiri kanan makadam adalah perkebunan kopi. Suhu disana sangat panas seperti di Jakarta. sekitar 90 menit kami berjalan, barulah makadam itu menemui ujungnya. Lumayan, Pemanasan.

Tips 4: Ada baiknya naik Ojek sampai ke Makadam saja, karena jalannya lumayan jauh sekitar 1,5 jam jalan kaki.JANGAN NAIK OJEK SAMPAI MATA AIR 1 APALAGI CIKASUR! INGAT, ARGOPURO MASIH ASRI, JANGAN KALIAN RUSAK KEASRIAN TERSEBUT! KALIAN PARA PENGOJEK TELAH MERUSAK JALUR PENDAKIAN, MEMBUAT MONYET-MONYET KETAKUTAN, DAN MASIH BANYAK LAGI KERUGIAN YANG DITIMBULKAN DARI NAIK OJEK.

Setelah melewati jalur berbatu yang membuat kaki sakit, jalur selanjutnya adalah tanah plus bekas jalur motor ditengahnya yang membuat kami harus berjalan bak pramugari, atau melebarkan kaki kami ke setiap sisi-sisi jalur motor. Terimakasih banyak para pengojek 🙂

Menjelang sore, sekitar pukul 16.00, kami break sejenak untuk menghilangkan bosan dan lelah berjalan seperti pramugari.

Tak lama, hujan turun, mau tak mau kami harus menunggu hujan reda, karena kami sudah terlanjur bongkar packingan kami.

Pada saat itu juga turunlah para driver ojek yang ditandai dengan ketakutannya monyet-monyet yang melompat dari pohon ke pohon beramai-ramai. Terimakasih banyak para pengojek 🙂

Kami tiba di Pos Mata air 1 sekitar pukul 19.00, jika dihitung-hitung, dari pos Baderan menuju Mata Air 1 memakan waktu 9 Jam, itu sudah termasuk menunggu hujan.

Kualitas air di Pos Mata Air 1 kurang bagus, keruh. Ada baiknya membawa kain yang bisa menyaring air tersebut untuk dimasak.

Chapter 4 (#AdaAirCikasur?)

Ketika pendaki lain sudah berangkat menuju cikasur. Kami para pendaki malas masih saja masak-,- Al-hasil kami baru siap berangkat ke Cikasur pada tengah hari.

Sekitar 1,5 Jam perjalanan (di jalur motor), kami tiba di Pos Mata Air 2. Yang mana Kualitas Air disana sangat-sangat-sangat bagus.

Bahkan air mineral dalam kemasan pun kalah pamor. Jernih dan Dingin, tenggorokan kami serasa dimanjakan olehnya.

Tapi, untuk mengambil air di Mata Air 2, turunan agak terjal, begitu pula naiknya. Tapi, tak ada hasil yang mengkhianati proses, kan?

Sabana Kecil menyapa kami setelah kurang dari 1 jam perjalanan dari Mata Air 2. Namanya saja yang kecil, tapi Saban kecil ini luasnya hampir sama dengan Ranu kumbolo. Tanpa Danau.

Di perjalanan menuju Sabana besar, kami bertemu dengan para pengojek yang melintasi jalur kami :”) Sedih rasanya, ketika kami kesini butuh 2 hari, mereka hanya butuh 6 jam :”)

Sabana besar, yang memang benar-benar sangat-besar-sekali. Dari sini kami sudah bisa mendengarkan suara-suara burung merak yang asing di telinga kami, Oh Argopuro, I Love You!! :’)

Kami menikmati kemegahan sabana besar sejenak. Merebahkan badan kami dimanapun kami suka. Namun sayang, karena hari sudah agak gelap, kami harus bergegas menuju Cikasur.

Cikasur sama seperti sabana besar, sangat sangat luas, tapi disini rumput-rumpunya lebih rendah dari sabana besar, itulah mungkin mengapa cikasur menjadi tempat camp favorite pendaki Argopuro.

Tips 5: Jika ingin Puas di Cikasur, Berangkat lah pagi-pagi sekali dari Mata Air 1, agar sesampainya di Cikasur tidak terlalu Gelap.

image

Cikasur terkenal dengan sungai bawah tanahnya dan tumbuhan salada yang tumbuh subur disana. Dan Selama saya minum air sungai, saya tidak pernah minum air sungai se-segar air sungai di Cikasur.

Menurut saya, sungai cikasur adalah sungai dengan kualitas air terbaik di semua gunung yang pernah saya sambangi.

Chapter 5 (Welcome to the (Real) Jungle!)

Jika biasanya saya dibangunkan oleh alarm atau ayam berkokok. Kali ini tidak, saya dibangunkan oleh suara melengking kepunyaan Burung Merak. Argopuro selalu punya cara untuk membuat kami menjadi malas :))

Sunrise cikasur pamer ketika saya membuka pintu tenda pagi itu.

Disini kami harus bergerak cepat, karena tujuan kami selanjutnya adalah Sabana Lonceng yang jarak tempuhnya 10 Jam menurut ROP kami.

Kami iri dengan rombongannya mas Bram, yang sudah 2 hari bermalas-malasan di Cikasur. Fyi: Mas Bram ini adalah rombongan pendaki dari Malang, yang sempat mengusir para pengojek yang hendak membuka tenda di dekat tenda mereka :)) Jahat!

Perjalanan Menuju Cisentor harus melalui beberapa kali keluar masuk hutan-savana. Dan jika sudah dekat, di kanan jalur adalah tebing, dan di kiri jalur adalah jurang, yang siap menewaskan siapa saja yang tidak konsentrasi.

Banyak tumbuhan berbahaya, orang sana menyebutnya ‘rumput Jancuk’. Tumbuhan merambat, batangnya berduri sangat banyak dan bentol-bentol disekujur daunnya.

Ada kejadian lucu kala saya sudah di jalur dekat cisentor. Kami di kejutkan dengan suara binatang. Suaranya persis BABI HUTAN, sontak saya yang berjalan paling depan kaget bukan kepalang.

Saya minta bantuan jodi untuk menemani saya di depan sambil membawa kayu untuk jaga-jaga jika mereka menyerang. Dan ternyata, suara itu bukan suara Babi, melainkan monyet yang ada di pohon di tebing sebelah timur.

Tapi, masih diragukan, apakah itu benar-benar suara monyet atau babi. Entahlah, yang penting kami aman.

Argopuro memang unik, dan masih asri. Kami sering sekali melihat Ayam-ayam hutan melintas di depan kami. Lucu! tapi sayang, kami belum diberi kesempatan untuk melihat sang burung merak 🙁

Setelah 3 jam perjalanan, kami sampai di Cisentor, tempat camp favorite lainnya. Tapi menurut saya, Cisentor kurang bagus, Airnya keruh dan sedikit berbau belerang.

Jadi, daripada camp di Cisentor, Lebih baik Camp di Cikasur satu hari lagi seperti Mas Bram :))

Selesai isi perut, kami lanjut berjalan menuju Rawa Embik, Perjalanan menuju Rawa Embik sangat keren. Sama seperti jalan menuju Cisentor, Kami harus masuk kedalam hutan kemudian keluar di savana, masuk hutan lagi, keluar sabana lagi, namun di perjalanan menuju rawa embik, kami melewati savan lavender yang sedang berbunga, seperti yang di oro-oro ombonya Semeru, sangat cantik!!

Sekitar 2 jam perjalanan kami sudah tiba di Rawa Embik. Kala itu sekitar jam 15.00 petang. Rawa Embik adalah sumber air Terakhir, karena di Sabana Lonceng, kita tidak akan menemukan sumber air lagi. Kami agak bingung mau melanjutkan atau tidak.

Pertimbangan pertama adalah AIR. Jika kami lanjut, kami harus mengisi semua botol-botol kosong kami untuk persediaan sampai paling tidak di pos Cemoro Limo. Perkiraan kami tiba di cemoro limo adalah besok siang.

Pertimbangan lainnya adalah jarak tempuh dari Rawa Embik menuju Sabana Lonceng yang memakan waktu 4 jam. Itupun jika terang.

Dengan membawa air sebanyak yang kami bawa pada saat naik ke Mata air 1 dan kondisi kami yang sudah mulai goyah karena ini adalah pendakian hari ke-3 ditambah track malam, sangat riskan rasanya.

Tapi rombongan mas Bram memberi saran untuk kami masak saja dulu di Rawa Embik, Makan besar di Rawa Embik agar di Sabana Lonceng tidak usah makan besar lagi, dan tidak membuang banyak air. Kami pun sepakat.

Tips 6: Kalo mau lanjut ke sabana lonceng, ada baiknya makan besar terlebih dahulu di Rawa Embik, Lumayan menghemat Air, karena di Sabana Lonceng TIDAK ADA sumber air.

Kami Makan besar di Rawa Embik, kemudian menyetok persediaan air sebanyak-banyaknya di rawa embik. Air di Rawa Embik lumayan bagus. Ya setara dengan air minum dalam kemasan bermerk Vit lah :))

Dan ternyataaa, Sabana Lonceng hanya berjarak 1,5 Jam dari Rawa Embik. Kami tiba di sabana lonceng sekitar pukul 18.30.

Sabana Lonceng adalah kaki-nya dari 3 Puncak disana, yaitu Puncak Rengganis, Puncak Argopuro, dan Puncak Hyang (ARCA).

Tenda kami kedatangan Tamu, siapa lagi kalau bukan Mas Bram dan Mas Aji :)) Akhirnya kami berbincang-bincang hingga larut malam, sampai-sampai mereka berdua tidak sanggup lagi memakan makanan yang kami sediakan untuk menjamu mereka :))

Chapter 6 (Udah Hyang belum? wk)

Jam 8 pagi, kami bergegas menuju Puncak Rengganis yang berjarak 15 menit saja dari Sabana Lonceng.

Puncak Rengganis lebih terkenal dikalangan pribumi setempat karena sejarahnya, silahkan browsing. Di Puncak Rengganis, ada 2 Makam Raksasa yang konon itu adalah makan dewi Rengganis dan pengawal setianya.

makan dewi rengganis

Ada pula yang menyebut itu dulunya adalah sebuah Pura. Entahlah~

Sangat diharamkan untuk tidak berfoto di puncak gunung.

puncak rengganis

Dari Puncak Rengganis, kami semua bersiap-siap untuk ke puncak lainnya, Yaitu Puncak Argopuro dan Puncak Hyang (Arca). Kami masak dan makan terlebih dahulu pastinya.

Jalur menuju puncak Argopuro sangat menanjak. Meskipun hanya 30 menit, tapi rasa-rasanya paru-paru saya sudah mau meledak-,-

puncak argopuro

Melipir kearah selatan sedikit, kami sudah berada di Puncak Hyang (ARCA). Di Puncak ini terdapat sebuah Arca, tapi sayang arcanya sudah rusak sewaktu kami disana.

puncak hyang

Chapter 7 (Moonwalk-ing)

Perjalanan turun menuju Danau Taman Hidup sangat curam. Oh iya, Kami turun lewat jalur professional. Di Argopuro, sangat banyak sekali jalur, ada jalur pendakian, jalur professional, dan ada pula jalur pemburu.

Jalur turun yang biasanya adalah melalui cisentor, yang artinya harus turun kembali ke cisentor lalu melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup.

Jalur Professional sangat-sangat curam, teperleset sedikit, kita akan berhadapan langsung dengan jurang penuh batu-batu sebesar ban mobil truk.

Disepanjang jalur ini pula banyak tumbuhan berbahaya, Orang Jawa Timur menyebutnya ‘Jancuk-an’. Jika terkena sedikit saja, kulit akan terasa terbakar dan gatal-gatal.

Tips 7: Jika turun lewat jalur professional, ada baiknya mengenakan celana lapangan panjang, dan baju tangan panjang untuk menghindari ‘Jancuk’!

Sekitar 3 jam Turun (beneran turun tanpa bonus), kami sampai di cemoro limo. Disana ada satu keluarga yang hendak naik Argopuro via Bremi, MEMBAWA ANAK BALITANYA!!!

Entah mental ayahnya seperti apa, yang pasti butuh mental baja untuk membawa anak balita untuk sampai di puncak Argopuro.

Satu jam setelah Cemoro Limo, Kami masuk di Hutan Lumut, benar-benar hutan yang membosankan, pemandangan sepanjang jalan hampir sama saja.

Pohon, pohon dan pohon. Sampai gelap menyapa kami, tetap saja pemandangan hanya pohon. Sampai akhirnya sekitar jam 19.00 kami menyebrangi sungai yang artinya sudah dekat sekali dengan Danau Taman Hidup.

Danau Taman Hidup sangat penuh sesak, maklum liburan panjang. Akhirnya kami kembali ke jalur dekat sungai yang kami lewati tadi dan membangun camp disana.

Hutan Lumut malam itu serasa milik kami berenam, tak ada lagi yang berkemah di sekitaran kami.

Pada malam itu juga kami menghabiskan malam dengan bercengkrama, ngobrol apa adanya, sambil menyeruput kopi yang masih hangat dan camilan yang sengaja kami sisakan untuk hari itu.

Tak terasa malam telah larut, lelah dan nikmatnya suasana Hutan Lumut membuat tidur kami menjadi nyenyak.

Chapter 8 (The Living Garden Lake, Halah!)

Saya baru bangun tepat jam delapan lewat tigapuluh menit, sedangkan yang lain sudah bangun dari jam enam (katanya).

Tapi saya tidak percaya, buktinya tak ada apapun yang bisa kami makan sebangunnya saya. Dasar manusia-manusia tidak kreatif!

Hutan Lumut masih sama seperti semalam, hangat dan sepi. Yang membuat kami menjadi pendaki paling malas kala itu.

Ada yang masak-masak untuk menghabiskan logistik, ada yang membakar sampah tissue agar packingan sampah kami tak terlalu besar (70% sampah kami adalah tissue-,-), ada pula yang kembali tidur.

danau taman hidup

Sampai jam 15.00, kami semua baru siap untuk turun. Tidak turun sebenarnya, kami pergi ke Danau Taman Hidup terlebih dahulu untuk sekedar tahu (dan berfoto tentunya).

danau taman hidup

Ternyata Danau Taman Hidup benar-benar indah, tapi sayang, jalan disekitar danau sangat becek, dan dermaga sudah di ‘booking’ pendaki-pendaki yang sedang mancing. Ada sedikit penyesalan, padahal 6 jam yang lalu kami sama sekali tidak produktif, kenapa baru ke Danau jam segini?-,-

Chapter 9 (Lost.)

Jam 16.00 kami baru mulai turun. Hutan 1000 tahun menyambut kami, Hutan yang kurang lebih hampir sama seperti hutan kala kami menyambangi puncak Gunung Pangrango di Bogor.

Ada jalur melipir, ada pula jalur yang terjal, kedua jalur selalu saling bertemu. Sebelum pada akhirnya, Jalur itu pula yang memecah rombongan kami menjadi 2.

Jadi, pada saat turun, kami terpisah menjadi 2 bagian. Saya dengan Melas, sisayanya, Jodi, Fico, Dansa, dan Lanting di jalur yang berbeda.

Saya yang berjalan paling depan selalu memilih jalur melipir, sedangkan Dansa yang berada persis di belakang saya agak sedikit gerah dengan langkah saya yang mulai lambat, akhirnya ia mengambil jalur curam agar lebih cepat, diikutin Lanting, Fico dan Jody.

Saya baru sadar bahwa Dansa sudah tidak lagi dibelakang saya ketika Melas terpeleset.

Saya: “Lho kok elu, ta?”

Melas: “Gatau yang lain lewat jalur potong (curam) tadi.”

Saya mulai bingung, jalur potong ada disebelah kiri, sedangkan saya terus belok ke kanan. Awalnya saya kira jalur potong tersebut akan bertemu, hingga akhirnya saya meniup peluit saya, berteriak memanggil Jody.

Dan ternyata, suara balasan darinya sangat-sangat jauh!

Disitu saya mulai sadar bahwa kami terpisah jalur. Saya berhenti dan bertanya kepada Melas.

Saya: “Ta, kita kepisah nih, menurut lu kita naik lagi atau lanjut terus?”

Melas: “Ya terserah sih, tapi kalo gua liat banyak lighting daritadi.”

Saya: “Iya sih. Yaudah lanjut deh. Air masih ada?”

Melas: “Ada”

Saya: “Logistik masih ada?”

Melas: “Ada nih Snickers tinggal satu.”

Saya: “Yaudah berarti aman. Nanti aja kita makannya kalo udah laper banget. Sekarang yang penting jangan panik.”

Saya sama sekali tidak ragu dengan jalur yang kami lewati, karena banyak sekali lighting dan jalurnya sangat jelas. Sesekali saya melihat ada sampah bekas permen dan makanan-makanan ringan yang artinya orang lain belum lama lewat sana.

Kami bertemu hutan damar, yang mana berarti jalan kami benar, karena senior saya bilang, sehabis Hutan 1000 tahun, saya akan melewati hutan damar.

Keyakinan saya bertambah menjadi 99% setelah genta melihat plang arah bremi di salah satu pohon damar. Syukurlah kami selamat. Bagaimana dengan yang lain?

Saya terus berfikir positif tentang mereka yang berpisah dengan kami berdua. Berkali-kali saya katakan kepada Melas jika Adiknya aman bersama Jody, dan mereka sudah sampai lebih dulu daripada kita.

Sampai di Perkebunan bakau, kami menemukan aliran sungai irigasi yang tanpa basa basi kami tenggak airnya. Disitu pula kami mengeluarkan handphone, berharap mendapatkan signal untuk menghubungi mereka.

Ternyata usaha kami sia-sia, Mereka belum mendapatkan signal. Saya dan Melas melanjutkan perjalanan sampai ke rumah Cak Ipin. Tepat jam 7 Malam kami tiba di rumah cak Ipin.

Saya bertanya kepada para pendaki yang bertemu kami di Pos Mata Air 1, mereka belum sampai, katanya.

Tak lama setelah kami sampai, Dansa menelpon kami yang artinya mereka selamat! dan mereka baru sampai di hutan damar yang kami lewati 90 menit yang lalu.

Syukurlah, kami berdua bisa makan dengan tenang. Lalu kami membawakan air ‘berasa’ untuk mereka. Kami menjemput mereka di Gapura Taman Hidup.

Terlihat jelas tampang-tampang kelelahan, senang, dan campur aduk dari mereka. hahaha.

Tips 8: JANGAN BERPISAH DARI TIM. JIKA BERPISAH, JANGAN PANIK, LAKUKAN S.T.O.P YANG TELAH DI AJARKAN DI ORGANISASI ANDA. JANGAN ANGGAP REMEH PELUIT!

Chapter 10 (Udahan aja.) 

Pada dasarnya, pendakian Argopuro itu sulit diungkapkan. Entah mengapa saya merasa sangat bangga pernah mendaki gunung semegah ini.

Terisolasi selama 5 hari disini, tidak membuat saya kapok untuk kembali lagi. Meskipun tenaga saya terkuras, biaya yang tidak sedikit, dan menghabiskan ‘jatah bolos’.

Tapi semua itu dibayar lunas, kontan tanpa kurang sedikitpun. Ada yang kurang, yaitu kami tidak bertemu dengan burung merak 🙁 tapi yasudahlah~ Terimakasih banyak Pegunungan Hyang.

Sepulang dari Argopuro, kami berkunjung terlebih dahulu ke Jogjakarta, ya liburan ala-ala turis laah :p Dari Bremi (Rumah Cak Ipin) kami carter mobil gabung dengan rombongan lainnya yang berjumlah 4 orang menuju stasiun Probolinggo.Lanjut naik kereta Logawa menuju Lempuyangan.

Tips 9: Sebenarnya ada angkutan umum menuju probolinggo, tapi paling terakhir jam 16.00 dari Bremi. Makanya jangan malas turun! Jangan nyasar juga :p

Oh iya, saya sama sekali belum menjelaskan, kenapa judul ekspedisi ini se-men-jijik-an itu? silahkan cari tahu sendiri :p Terimakasih sudah membaca tulisan absurd ini :))

Tips Terakhir, BAWA KAMERA YANG PALING BAGUS!!!

Ya kira-kira seperti itulah catatan perjalanan gunung argopuro versi kami. Semoga dapat menghibur dan menambah wawasan Anda tentang Gunung Argopuro itu sendiri.

Jadi, Kapan berangkat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *