catatan perjalanan gunung merbabu

Bulan mei telah tiba, saya girang bukan kepalang saat melihat ada 2 tanggal merah di pertengahan mei. Tanpa pikir panjang, saya merencanakan pendakian pada tanggal itu. Singkat kata, saya mengajak semua rekan-rekan yang pernah mendaki bersama saya.

Dan terkumpullah 5 orang yang memiliki waktu luang untuk menemani saya mendaki. Pastinya mereka bertanya-tanya mau mendaki gunung mana? saya pun bingung-,-  Gunung Merbabu dan Slamet lah yang terlintas di otak saya kala itu, karena saya belum pernah mendaki keduanya. Mengingat akhir-akhir ini gunung Slamet sedang aktif-aktifnya, pilihan jatuh pada Gunung Merbabu.

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut. -Wikipedia

Sebelumnya perkenalkan, Ini adalah team Merbabu 13-17 Mei 2015:

image

Genta Auni Adinegoro a.k.a Melas, Junior saya yang berkuliah di UGM Teknik Sipil 2014. Moonpala Angkatan 13. Salah satu anggota terbaik di Moonpala di generasinya. Kuat, Alat lengkap, Cerdas.

image

Mufid Supriyanto a.k.a Mupit, stupit, tukijam dll. Mahasiswa Akuntansi Gunadarma 2014. Satu slayer angkatan dengan genta. Sangat berisik, tapi sangat sabar meskipun dibully oleh kami :))

image

Hana Tsabitah a.k.a Dansa/Danski/Tasbi’ah etc. Mahasiswa UI 2014 PISIF (bukan FISIP) Ilmu Komunikasi. Moonpala angkatan 14 (13,5) yang selalu menjadi bahan cengcengan Senior-seniornya di Moonpala. Tangguh, pintar, dan sabeb alig katanya. Jomblo juga. Gaes?!

image

Achmad Faizal D a.k.a Mayor, Satu-satunya Sarjana di team ini 🙁 Selebihnya Anda bisa baca di Page MPLX 🙂

image

Djoddy Mahardhika Z a.k.a Seceng/jodi. Yang punya merbabu. Ini adalah yang ke-11 kalinya Ia mendaki merbabu-,- Selebihnya Anda bisa lihat di Page MPLX 🙂

image

Dan saya tentunya :p

H-2, Mayor dan Mufid membeli tiket Sinar Jaya Ciputat – Giwangan seharga 124rb/orang untuk 4 orang. Kenapa hanya 4? karena 2 orang lainnya adalah warga (sementara) Jogja.

H – 1 Pendakian Gunung Merbabu

Rabu, 13 Mei, Kami semua berkumpul di agen resmi SinJay Ciputat sekitar jam 2 siang, karena keberangkatan bus adalah jam 3 sore. Saya dan mayor ‘ngangkot’ bareng karena memang rumah kami tidak jauh. Dansa diantar oleh supirnya.

Dan mufid diantar oleh Ayahnya. Kami tiba disana hampir berbarengan. Disana juga ada Tujo, senior kami yang tadinya mengiming-imingi akan ikut, tapi ya sudahlah~

Sambil ngopi-ngopi cantik, kami cek alat-alat yang kita butuhkan. Tidak ada sama sekali alat kelompok seperti Tenda atau kompor yang kami bawa, karena 2 orang jogja telah membackupnya 🙂

Bus SinJay menyalakan mesinnya, tanda mereka akan berangkat. But wait, jam berapa ini??? sudah jam 3 lewat setengah mereka baru persiapan berangkat-,- Kamipun berpamitan dengan Tujo.

Jalanan Ciputat kala itu agak padat. Bus kami membutuhkan 20 menit untuk masuk ke Tol Pondok Indah. Setelah itu masih macet lagi-,- Berjam-jam kami di Bus, Sampailah kami di tempat peristirahatan bus Sinar Jaya di daerah Indramayu sekitar pukul 10 Malam.

Makanan disitu bisa dibilang sangat mahal, Saya dan dansa terpaksa merogoh kocek masing-masing 28ribu hanya untuk nasi+1 lauk+sayur dingin+minum-,-

Perut sudah kenyang, bus pun berjalan, kami semua tertidur. Saya terbangun di daerah Kebumen sekitar jam 3 Pagi, setelah mendapat kabar bahwa Real Madrid tidak lolos ke Final Berlin, saya kembali tidur~ Kemudian saya terbangun lagi di daerah Purworejo sekitar jam 6 Pagi. Setelah memberi kabar pada sang tuan rumah, saya kembali tidur 😀

Kami sampai di terminal Giwangan-Jogjakarta sekitar pukul 11 Siang. Lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah si tuan rumah di daerah Parang Tritis.

Tarif bus Giwangan-Parang Tritis hanya 5rb. Tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit kami tiba di rumah Jodi.

Kami mem-packing ulang barang-barang kami, sekaligus belanja logistik yang masih harus dilengkapi. Setelah semuanya siap, Kami berangkat menuju Magelang dengan menggunakan bus Ramayana tujuan Terminal Magelang, Bus Ramayana ini seperti JetCoster, hanya 1 jam kami sudah tiba di Magelang dengan tarif 15rb.

Di terminal magelang, Kami mengisi perut kami dengan soto daging khas Jawa tengah :9 sambil mencari carteran mobil untuk menuju daerah wekas. Kami mendapatkan 1 mobil carteran carry dengan harga 15rb per orang.

Basecamp Wekas

Satujam perjalanan, kami telah sampai di wekas. Dan masih harus naik ojek menuju basecamp Wekas. Satu motor diberi tarif 25rb, mau tak mau kami harus naik karena jarak dari perkampungan Wekas ke basecamp Wekas lumayan jauh dan menanjak-,,-

Lalu kami registrasi disana. Tiket masuk TNGM untuk pendakian Lintas Wekas-Selo adalah 16rb/orang. Tidak lama setelah registrasi, kami semua memulai pendakian yang diawali doa terlebih dahulu.

Tujuan pertama kami adalah pos 2 Wekas. Kenapa? karena disana ada tempat berkemah yang paling pas untuk para pendaki gunung Merbabu, plus ada sumber air.

Setelah 3 jam perjalanan santai, kami sampai di pos 2. Kami membagi tugas, Saya, Jodi, Dansa, dan Genta membangun tenda, yang lainnya memasak air hangat, karena suhu sudah mulai menusuk-nusuk tulang -,-

pos 2 gunung merbabu

Setelah tenda jadi, dan minuman hangat tersaji beserta makanannya, kami semua masuk, berkumpul di dalam satu tenda sambil bercengkrama, bercanda, tawa. Ah nikmatnya 🙂

Sadar hanya kita yang masih terjaga tengah malam itu, kami semua tidur, takut mengganggu kenyamanan para pendaki lain 🙂

Pagi jam 6, saya yang pertama bangun. Seperti biasa, hal yang pertama saya cari adalah kopi. Saya lupa kalau saya sedang di hutan. Langsung saja saya ambil seperangkat alat masak di belakang tenda untuk membuat minuman hangat dan membuat makanan untuk semuanya, meskipun hanya mie instan. hehe

pos 2 gunung merbabu

Masakan matang, penghuni tenda sebelah, Genta, dansa, dan mufid membuka pintu tendanya sambil mengigil, tanda mereka sudah siap beraktifitas (makan) pagi itu.

Kabut tipis dengan sedikit gerimis menghampiri kami pagi itu. Kami semua ber-mager-ria, hanya mufid yang semangat pagi itu, sebetulnya bukan semangat, lebih ke panik, karena hanya dia yang mengejar waktu agar hari minggu sudah sampai di rumah :))

Sekitar jam 9, kami semua bersiap-siap. Mem-packing semua barang-barang yang kita gunakan di kemah itu. Tak lupa kami mengumpulkan sampah yang kami bawa 🙂

Tujuan kami selanjutnya adalah Puncak. Setelah berdoa, kami semua kembali melangkah menggapai asa (Tsaelah….).

Susunan Leader-Center-Sweeper tidak jauh beda dengan hari sebelumnya. Genta pada leader, Dansa pada center dan Jodi sebagai sweeper.

Medan yang kami tempuh lumayan menanjak, kemiringan sekitar 30°-65°, ditemani hutan hujan tropis khas Indonesia, dan kawan gunung merbabu di kiri dan kanan kami, Barulah setelah kami melewati pos 3 kami disajikan pemandangan padang rumput, Puncak Merbabu pun mulai terlihat jelas.

image
image
image

Tengah hari, kami telah sampai di pertigaan antara puncak syarif dan puncak kenteng songo. Di Gunung Merbabu, ada 3 puncak, selain yg saya sebutkan diatas, satu lagi adalah puncak Triangulasi.

Puncak Syarif Gunung Merbabu

Hanya butuh 10 menit dari pertigaan untuk sampai di puncak Syarif. Kami menitipkan barang bawaan kami kepada para pendaki lain.

Lho kenapa dititipkan?! Ya, soalnya, jalanannya sangat menanjak, dan lagipula kita akan kembali lagi lewat situ untuk menuju puncak kenteng songo. 🙂

puncak syarif gunung merbabu

Kenapa namanya puncak syarif? Konon menurut cerita penduduk Mbah Syarif pernah lama tinggal di puncak gunung Merbabu, sehingga penduduk menyebutbya puncak Syarif.

Apakah mbah Syarif dimakamkan dipuncak Merbabu? ada yang bercerita Makam mbah Syarif berada di desa Thekelan.

Lalu apakah mbah Syarif seorang Pertapa sehingga menyendiri di puncak gunung? Apakah tujuannya untuk mencari ketenangan bathin?

Menjauhkan diri dari masyarakat dan keduniawian? Menurut salah satu versi cerita tentang Mbah Syarif. Mbah Syarif melarikan diri ke puncak Merbabu setelah beliau membunuh istrinya. Lantas mana yang benar? Wallahualam…

Puncak Syarif berada pada ketinggian 3119 Mdpl dengan luas kurang lebih 50-75m². Pemandangan dari sini sangat indah, sayang kami ‘hanya’ disajikan gumpalan awan dan Gunung Merapi yang mengintip dari arah selatan. Katanya, kalau sedang tidak ada wan, kita bisa melihat laut jawa di arah utara!

Setelah berfoto ria, kami kembali turun ke pertigaan untuk turun minum, kemudian kami bergegas menuju puncak Kenteng Songo.

Puncak Kentheng Songo, Gunung Merbabu

Perjalanan menuju kenteng songo tidak berbeda jauh dengan perjalanan dari pos 3 menuju pertigaan. Hanya saja, beberapa meter sebelum Puncak kenteng songo, ada tebing yang lumayan curam yang mau tidak mau harus kita lalui.

image

Harus ekstra hati-hati melewati tebing ini, salah sedikit, patahlah anggota badan 🙂 Andd drum roll please…..

kentheng songo

Akhirnya kami sampai di Puncak tertinggi Gn Merbabu,  Kentheng Songo.

kentheng songo

Sedikit kisah dari kentheng songo, Disini terdapat 4 Watu Kenteng (batu berlubang) yang tentunya kalau dilihat tanpa kasat mata hanya terdapat 4 lubang/kenteng, namun sesungguhnya terdapat 9 kenteng/lubang yang ada pada puncak ini jika dilihat secara ghaib.

Percaya tidak percaya memang watu Kenteng Songo memang sudah ada semenjak Gunung Merbabu ini terbentuk dan disekitar sinilah terjadi aktifitas dari para makhluk halus penunggu Gunung Merbabu.

Banyak sekali kejadian- kejadian yang tidak lazim yang ditemukan oleh para pendaki yang membuat camp di puncak Kenteng Songo dari kejadian fatamorgana sampai yang mendengar keramaian di puncak Kenteng Songo yang padahal tidak ada seseorang pun kecuali para pendaki yang sedang beristirahat di puncak ini.

Terkadang dapat dikatakan Kenteng Songo menjadi negeri diatas awan bukan hanya bagi para pendaki/manusia melainkan bagi para lelembut yang selalu menjaga Gunung Merbabu ini.

Dari sini akan terlihat pemandangan klasik Merapi dan 6 puncak Merbabu yang lain, seperti Triangulasi, Pregodalem, Watu Gubung, maupun puncak pemancar.

Puncak Kentheng songo siang itu panas sekali, matahari terasa sangat dekat. Namun, angin tetap saja berhembus cepat.

Pendaki lain sibuk berfotoria di tugu puncak, sedangkan kami bingung ingin istirahat dimana. Beginilah fenomena di Indonesia, gunung-gunung yang dahulu begitu eksklusif, sekarang menjadi tempat wisata wajib untuk abg-abg labil.

Hampir semuanya yang berada di atas sana membawa spidol dan kertas kosong yang nantinya akan ditulisi berbagai macam tulisan, sekedar untuk pesan kepada kawan-kawannya yang tidak ikut mendaki. Bahkan, ada yang sampai membuat puluhan pesan semacam itu-,- semoga saja sampahnya dibawa pulang 🙂

Sebenarnya kami juga membawa kertas semacam itu. Itupun dansa yang dititipi temannya untuk menuliskan sesuatu diatas sini.-,- Gunung Merapi sangat terlihat jelas sekali di depan mata kami, dengan selimut awan menggumpal, Ia tampak gagah. Di sebelah barat, ada matahari yg terik, cocok untuk berfoto genre siluet. Kami tak mau kehilangan momen ini, semua asik sendiri dengan kameranya, termasuk saya. Hehe

puncak kentheng songo

Puas berfoto dan karena sangat terik disana, Kami melanjutkan perjalanan kami. Targetnya kali ini adalah sabana 1 sebelum matahari tenggelam. Kami tidak mampir ke Puncak Triangulasi yang kelihatanannya tak jauh beda dengan kentheng songo.

Turun via Jalur Selo

Kami turun lewat jalur Selo yang mana jalurnya sangat sangat curam. Kemiringan mencapai 80° bahkan lebih beralaskan tanah Vulkanik khas Gegunungan, disarankan jangan menggunakan Sendal jenis apapun, karena memang sendal bukanlah SOP yang tepat 🙂 Oh iya, jika Anda kelelahan, usahakan jangan berlari dijalur ini, karena dapat membahayakan pendaki lain 🙂

jalur selo merbabu

Setelah 3 kali turunan dengan kemiringan tersebut, masing-masing sepanjang 100-150 Meter, barulah kita tiba di sabana 2.

Kami memutuskan untuk bermalam disana. Karena dari atas, terlihat jika Sabana 1 sudah full dengan tenda-tenda pendaki lain yang ingin naik ataupun turun. Lagipula, Sabana 2 sangat luas, dan bagus, Mengurangi rindu saya kepada Surya Kencananya Gunung Gede 🙂

image

Angin Lembah Sabana bertiup dengan lembut, sesekali menembus pakaian yang kita gunakan. Suasana yang sangat jarang, bahkan tidak akan pernah Anda rasakan di penatnya Ibukota 🙂

Kami mendirikan tenda bertetanggaan. Baru kami yang mendirikan tenda di lapangan luas itu, sisanya mendirikan di sebrang kami di dekat pepohonan. Setelah tenda berdiri, seperti biasa, ritual yang kita lakukan adalah…. masak air.

Gelap pun datang, kami semua bergabung kembali di dalam 1 tenda. Untuk mengusir rasa lelah, kami memainkan permainan kartu Blackjack.

Bukan uang taruhannya, melainkan, setiap pemain yang kartunya ‘kebakar’ mendapat kesempatan emas, yaitu berlari keliling tenda 😀 fyi: diluar sangat dingin kala itu :)) tapi untuk menghemat waktu, kami sepakat sanksi diberikan apabila sudah ada pemain yang 5 kali ‘kebakar’ kartunya 😀 Dansa adalah penyetak rekor dengan 5 kali ‘kebakar’, diikuti genta 4 kali, mufid dan saya 2 kali, dan jodi 1 kali, sedangkan mayor tidak pernah ‘kebakar’ karena memang ia tidak ikut main :p Kami berlimapun serentak menjalani hukuman yang kami buat sendiri… brrr kaki rasanya seperti ditusuk-tusuk paku-,-

Kami sepakat menghentikan permainan, karena hukumannya tidak begitu menyenangkan…

Diluar, Bintang bertaburan, rasanya sayang sekali untuk melewatinya. Saya mengajak jodi untuk menggelar tongkrongan di luar sebelah tenda, mempersenjatai diri dengan sb, kompor dan bahan makanan.

Genta dan Dansa ikut bersama kami, sisanya tertidur pulas. Tidak banyak yang kami lakukan, hanya ngobrol santai, masak, makan, sambil menatap bintang yang aduhai indahnya 🙂 Menu yang menjadi juara malam itu adalah sebut saja kuah surga. Yaitu air mendidih yang diaduk bersama royco rasa ayam, itu saja. :))

Waktu menunjukkan tengah malam, bahan makanan pun telah habis. Kami berempat memutuskan untuk tidur. Tentu saja tidak tidur diluar, kami semua membereskan tempat kami nongkrong tadi, dan kembali ke tenda masing-masing.

Saya terbangun dini hari, cahaya senter para pendaki yang ingin mengejar sunrise terlihat dari kejauhan. Saya sebenarnya ingin melihat sunset dari bukit sebelah timur, tapi sepertinya masih terlalu pagi untuk saya keluar tenda, dan akhirnya saya tidur kembali.

Dan sialnya, saya terbangun jam 6, dimana matahari sudah terlanjur tinggi 🙁 Saya keluar tenda, berjalan menuju bukit timur, mayor membuntuti saya dari belakang bersama mufid, yang lainnya masih tertidur, atau tidak berani keluar, entahlah.

Dari bukit itu, kembali Merbabu memamerkan keindahannya, saya disuguhi pemandangan awan ke kuningan, terlihat dari arah tenggara agak jauh mengintip gunung lawu yang seakan mengucapkan “selamat pagi” khusus untuk saya. :))

sabana

Kami kembali ke tenda, disana sudah ada genta dan dansa yang sedang bingung ingin melakukan apa. Jodi masih terbungkus rapi dengan SB.

Saya mengeluarkan seperangkat alat masak, seperti biasa, air hangat untuk membuat kopi. Genta mencoba memasak nasi dibantu dansa, sambil menunggu nasi matang, saya membuat pancake yang adonannya sudah dibuat oleh jodi semalam, untuk sekedar menemani kopi.

Hari sudah semakin siang, perut pun sudah terisi. Tapi, jodi belum juga keluar dari ‘kepompongnya’, padahal, mufid sudah panik bukan kepalang :)) Mufid memberanikan diri untuk membangunkan jodi. Jodipun bangun, dan merapikan semuanya.

Sedih rasanya kami harus meninggalkan sabana 2 tanpa tahu kapan bisa kesana lagi 🙁 tapi, dibawah sana, kehidupan yang sesungguhnya telah menanti.

image

Kami berjalan meninggalkan Sabana 2. Kembali kami dipertemukan turunan yang sangat curam seperti saat kami menuju sabana 2. Diujung turunan adalah Sabana 1 yang memang sangat ramai sekali.

Kami mempercepat tempo perjalanan, dengan harapan tidak terlalu sore sampai di basecamp Selo. Pos 3 dan pos 2 hanya kami singgahi sebentar saja.

Barulah di pos bayangan kami semua istirahat lumayan lama, sekaligus opsih disekitar situ, karena sampahnya terlalu banyak 🙂

Sekitar pukul 3 petang, kami sampai di basecamp Selo. Disana sudah berjejer mobil carteran, dari APV hingga losbak. Kami tidak terburu-buru, memesan segelas kopi dan teh terlebih dahulu sepertinya akan nikmat 🙂

Saya kemudian bernegosiasi dengan salah satu losbak disana, harganya bisa dibilang mahal. 400 ribu untuk keberangkatan menuju Jogjakarta, satu mobil bisa menampung 15 orang. Kami berunding terlebih dahulu.

Tidak lama, segerombolan orang yang untungnya kenal dengan salah satu rombongan kita tiba. Tetangganya Jodi itu membawa 8 orang, tapi tujuan mereka adalah boyolali.

Mengingat hanya mufid yang akan pulang ke jakarta, kamipun setuju untuk gabung dengan mereka. Harga losbak ke boyolali hanya 250rb, lebih murah lagi 😀

Satu jam tiga puluh menit kami sudah tiba di terminal boyolali. Kebetulan bus yang akan ke Jakarta belum berangkat, dan akhirnya kami berpamitan dengan mufid dan 8 orang rombongan temannya Jodi.

Kami sisa ber 5, tujuan kami adalah Jogjakarta. Kata orang disana, kami harus menuju kutoarjo dahulu barulah kami menemukan bus yang menuju Jogja.

Di kutoarjo kami menyempatkan untuk minum susu hangat yang katanya khas boyolali itu hehe tak lama bus EKA jurusan jogja datang, kamipun berangkat menuju jogja. Perjalanan menuju jogja memakan waktu 1,5 jam dengan ongkos 15ribu.

Tiba di terminal Giwangan, kami tidak menemukan bus yang menuju parang tritis, mau tidak mau kami harus naik taksi. Uh, untung saja ada bang boro (temannya jodi) yang sedang menginap di rumahnya jodi.

Sebelum dijemput, kami makan nasi goreng di pinggir perempatan giwangan, lumayan. Nama nasi goreng yang saya pesan adalah Magelangan, jadi magelangan itu adalah nasi goreng campur bihun dan lain-lainnya.

Selesai makan, bang boro sudah menunggu diluar kedai, jodi pun ikut dengannya, mereka mengambil 1 motor lagi di rumah jodi. Dan begitu terus sampai kami semua terangkut ke rumahnya jodi.

Dirumah jodi, kami semua mebersihkan diri, sekligus istirahat sebentar. Rencananya, malam itu kami semua ingin mengelilingi Jogjakarta. tapi sayang, sudah larut malam sehingga hanya Alun-alun Jogja yang masih buka 🙁

Paginya, saya dan Dansa yang sedang sibuk dengan tugas kampusnya berunding, dan kami memutuskan untuk mencari bus pulang pagi itu juga. Lalu kami membangunkan mayor dan genta untuk membantu mencari bus pulang.

Di terminal giwangan, kami mendapatkan bus pulang Sumber Alam dengan harga Rp 100.000 dengan keberangkatan jam 2 siang.

Kebetulan kala itu masih jam 11 siang, jadi kami memutuskan untuk balas dendam karena semalam kami gagal mengelilingi Jogja.

Lalu kami ke malioboro yang kala itu Ramai sekali karena baru saja diadakan Color Run disana. Kami mampir ke kedai Gudeg dipinggiran jalan Malioboro.

Setelah itu kami menuju tempat Oseng-oseng mercon yang sudah saya rindukan sejak semalam. Ternyata tempat yang kami temukan itu sama seperti tempat yang waktu saya kesini dengan dimsum.

Setelah puas berkuliner ria, waktu sudah menunjukkan jam setengah 2, kami bergegas menuju Terminal giwangan.

Bus sudah menunggu, kamipun berpamitan dengan Genta. Lho kok cuma genta? Jodi masih ternyenyak di kasurnya. As Always-,-

Sekitar jam 10 Malam, bus berhenti makan di daerah Bumiayu, yang membedakan Sumber Alam dengan Sinar Jaya adalah harga makanan di restoran Sumber alam lebih murah, hanya 18 Ribu kami sudah bisa menikmati 2 Lauk. Love you Sumber Alam.

Jam 7 pagi, Kami tiba di Tol Bekasi yang kala itu macet parah, kami lupa kalau hari itu adalah senin pagi-,- Kami mencoba tidur kembali, berhasil, tapi cuma sebentar.

Sekitar jam 11 siang akhirnya kami tiba di terminal lebak bulus, dari situ kami naik angkot Lebakbulus – Pamulang, disambung dengan angkot Pamulang-Muncul, Dansa turun di Villa dago, ya karena memang disitu rumahnya-,-

Saya masih harus melanjutkan perjalanan menuju serpong, saya singgah sebentar dirumah mayor sekedar untuk mengisi perut, lagi lagi dengan kopi. Setelah meng-copypaste foto-foto selama perjalanan, Saya di antar mayor ke rumah saya.

Dan itu lah akhir dari 5 hari yang menabjubkan. Terimakasih kepada Gunung Merbabu untuk keindahannya yang tanpa saya duga bisa seindah itu. Sekian catatan perjalanan gunung merbabu dari saya.

Terimakasih juga kepada semua rombongan, Jodi, Genta, Dansa, Mayor, dan Mufid. Serta terimakasih juga untuk bang Boro 🙂

Mendaki gunung bukan tentang seberapa tinggi gunung yang kau daki, tapi ini tentang dengan siapa kau mendaki, dan untuk apa kau mendaki.

Metropolution
Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Merbabu
Article Name
Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Merbabu
Description
Catatan perjalanan dari pendakian gunung Merbabu via Wekas turun selo
Author
Publisher Name
Metropolution
Publisher Logo