catatan perjalanan gunung prau

Dieng, adalah desa tertinggi di Jawa tengah yang terletak di kabupaten Wonosobo. Disana terdapat Beberapa gunung, diantaranya Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan yang kami daki kemarin, Gunung prau. Saya mendaki gunung Prau bersama 6 orang lainnya yang tergabung dalam rombongan saya.

Berikut ini adalah catatan perjalanan Gunung Prau, Dieng, Wonosobo

Day-1

8 Agustus 2014, saya yang telah merencanakan berangkat pada hari itu jam 17.00 WIB, baru terbangun pada jam 11.00 di rumah salah satu teman saya.

Persiapan yang kami lakukan agak terburu-buru karena kami belum menemukan Kendaraan yang tepat untuk menuju Dieng.

Untunglah Rima, salah satu rombongan kami bersedia mencarikan kendaraan menuju Wonosobo dari lebak bulus.

Tak lama sekitar jam 1 setelah shalat jum’at, Rima mengabarkan jika kami sudah mendapatkan kendaraan.

Robi, salah satu rombongan kami menjemput satu rombongan kami yang lainnya. Dan kami (Saya, Robi dan Akas) pun berangkat menuju Lebak bulus menggunakan Commuter Line Serpong-Pondok Ranji kemudian dilanjutkan dengan ber-angkot-ria ke Terminal Lebak bulus.

Handoyo

Di Lebak bulus, Kami bertemu dengan Rima dan dua saudara sepupunya, Sasa dan Nadhir. Lalu saya dan Robi berbelanja logistik di supermarket terdekat.

Kabar kurang sedap datang dari Rima. Bus yang sebelumnya kami booking (Sinar Jaya) ternyata terjebak macet dan baru sampai di Cirebon.

Akhirnya kami memutuskan untuk berganti Bus dengan PO Handoyo, daripada kami harus menunggu sekitar 12 jam lagi untuk kedatangan bus Sinarjaya yang mandek di Cirebon mengingat masih ada arus balik mudik.

Perbandingan harga Sinar Jaya dan PO Handoyo cukup jauh, Sinar Jaya RP 95.000 dan Handoyo RP 135.000 dengan relasi sama, Jakarta – Wonosobo.

Bus Handoyo cukup nyaman, sesuai dengan harganya. Bus berangkat sekitar jam 5 Sore dari terminal lebak bulus. Di perjalanan, saudara sepupunya Robi yang tinggal di Cikampek ingin mengikuti perjalanan kami.

Dan pada pukul 19.00 kebetulan bus kami melewati daerah Cikampek, Bori, Sepupu dari Robi tersebut membawa 6 Bungkus nasi padang yang kami pesan kepadanya sebelumnya.

Karena perut sudah berisik, kami lahap bungkusan itu di dalam bus. Setelah makan, kami mengobrol santai di dalam bus, sampai beberapa tim kami tertidur.

Kami semua terbangun di pemberhentian Bus di daerah Brebes kira-kira pukul 12 malam. Disana ada beberapa orang yang pindah bus ke bus kami. Semuanya dari sumatra tepatnya daerah Riau.

Salah satu orang sumatra itu duduk di sebelah saya. Sudah 3 hari ia di jalan menuju kampungnya, Cilacap dari Dumai, Pekanbaru. “Kalo tak biasa ya bengkak lah kaki.” katanya.

Biaya yang ia keluarkan untuk bus saja adalah Rp 500.000, dan untuk keperluan selama perjalanan sama seperti harga tiket bus.

“Kalo lagi mudik gini, bus sekejap-sekejap berhenti, semua harga mahal, ya sama lah seperti harga tiket bus.” keluhnya.

Bapak yang kira-kira berusia 35 tahun keatas ini bercerita banyak kepada saya. Dia bekerja di Dumai lebih tepatnya Pulau Rupat, Perbatasan antara Indonesia-Malaysia.

Tugasnya adalah menjaga Hutan tersebut dari pembalakan yang dilakukan pihak asing. “Setiap hari saya kelilingi pulau itu, banyak sekali terjadi pembalakan disitu, kebanyakan maling tuh orang Indonesia sendiri. Tokek-nya orang Malaysia.” ceritanya.

Ketika saya tanyakan seberapa sering ia mudik, ia menjawab “Sekitar setahun sekali, ya paling cepat 6 bulan sekali lah saya begini. Sudah 20 kali saya pulang-pergi Dumai-Cilacap, makanya saya sudah terbiasa.”

Wonosobo

Saya terbangun di Jalan Bumiayu, beberapa jam sebelum Purwokerto. Jam telah menunjukkan pukul 03.00, Macet total terjadi. Seharusnya kami telah sampai paling tidak di Purwokerto saat itu.

3 Jam Kami stuck disana dan pada jam 7 pagi, kami tiba di pemberhentian bus Ajibarang. Disitu si bapak penjaga hutan Dumai pindah bus kembali untuk menuju Cilacap.

Sekitar pukul 14.00, kami tiba di Wonosobo, hampir 24 jam kami menghabiskan hidup di dalam bus. Di Wonosobo kami rehat sejenak sambil menunggu mas Fasol, Supir bus Wonosobo-Dieng yang telah dikenal banyak pendaki gunung Prau.

Sambil menunggu Mas Fasol yang masih di perjalanan menuju Wonosobo dari Dieng, Kami makan dan membeli logistik tambahan di Alfamart Wonosobo.

Tak lama mas Fasol tiba. Mas Fasol ini baik banget, mau aja jemput kita di tempat makan, padahal tarif yang dia kasih adalah tarif normal, Wajahnya mirip Judika, sekilas.

Selain baik yang di atas, mas Fasol juga punya ‘baik’ yang lain lho. Singkat cerita saya disuruh duduk di depan sendirian olehnya, yang lain pun disuruh duduk sendirian, padahal bus itu memiliki formasi bangku 2-2.

Saya tak mengerti apa maksudnya, sampai dia menaikan penumpang lain dan disuruh duduk disebelah saya. Ternyata maksudnya adalah biar saya mendapat kenalan orang Wonosobo sing Ayu, Bagus juga tehniknya.

Ketawa ketiwi sepanjang jalan dan sempat bete karena mas Fasol menolak untuk menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Judika, akhirnya kita sampai di Patak Banteng, Base Camp pendakian Gunung Prau.

Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng, Dieng

Kami langsung mencari kantor registrasi Patak Banteng yang terletak dibelakang Mushola, Ramai sekali saat itu. “Ada 300 orang mas yang naik hari ini.” Kata petugas registrasi.

pathak banteng prau

 

Selesai dengan Registrasi, kami melengkapi kembali Logistik kami yang masih kurang di Warung yang ada disana. Kebetulan ada warung bakso disana, Karena Cuaca sangat dingin, maka kita putuskan untuk membantai bakso tersebut.

Hari semakin Sore, Satu persatu rombongan lain mulai berangkat, begitu pula kami. Setelah Ritual Do’a, Kamipun berangkat.

Medan pertama yang harus kami tempuh adalah Perkampungan Warga serta Ladang Warga yang beralaskan bebatuan kali yang telah disusun Rapih, bagi Anda yang pernah ke Curug Cibereum pasti Anda punya bayangan. Jalan Lumayan Terjal sampai pos 1, atau sekitar 45 menit dari awal kita berangkat.

FYI: Di Pos 1 ada Jasa ojek Rp 10.000

Di pos 1, Tiket Registrasi kita diperiksa. Setelah Pos 1, Barulah kita terlepas dari bebatuan kali yang menyiksa kaki kita jika kita tidak memakai Sepatu yang safety.

Kali ini medannya masih di ladang Warga tapi beralaskan Tanah dan Curam. Tak ada Bonus disini. Barulah di Pos 2 Kita bertemu Hutan, Hutannya pun tidak terlalu lebat sehingga pedaki yang sangat jauh di atas kita bisa terlihat dan membuat agak ‘Down’.

Berjalan selama 3 jam kurang, kita sudah sampai di puncak. Iya 3 jam, iya Puncak.

Keadaan puncak sangat dingin dan sangat sangat sangat Ramai. Ada sekitar 100 tenda lebih yang sudah ‘digelar’ di Lapangan seluas kira-kira 1 Km persegi itu.

Untungnya kita masih dapat Lapak, Tepat diantara pepohonan yang dapat menampung angin.

Kami berbagi tugas. Para Adam mendirikan tenda kecuali Nadhir, dan sisanya memasak air untuk menghangatkan badan.

Tenda sudah jadi, saatnya makan berat untuk mengisi tenaga yang telah terpakai. Pelajaran penting, jangan naik gunung tanpa membawa orang bisa masak nasi seperti kami.

Bunyi keramaian puncak prau ditambah suara petasan yang dibawa pendaki ababil membuat suasana menjadi hangat. Kami semua masuk tenda dan, tidur.

03.00

Tenda yang miring membuat saya terbangun karena badan saya terasa sangat sakit. Saya bengong sejenak, kemudian saya miss call ratu yang ada di tenda sebelah. Dan ternyata dia bernasib sama.

Saya memutuskan untuk keluar tenda, meskipun sangat dingin. Kemudian saya mencoba mencari kegiatan agar panas tubuh saya meningkat, saya memasak air untuk membuat kopi.

Kopi Jadi, yang daritadi pura-pura tidur bangun. Kopi, camilan dan MP3 Player menemani saya menunggu Sunrise dengan playlist agak melow.

Golden Sunrise Gunung Prau

Akhirnya datang juga si dia. Robi, akas dan bori bergegas mencari spot terbaik untuk mengabadikan moment.

Sasa dan nadhir ke spot yang lainnya. Sedangkan saya dan Ratu menunggu di tenda, takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi,

Bori yang kedinginan kembali ke tenda, nah inilah kesempatan saya dan Ratu ikut yang lain untuk berfoto ria!

Ini si Dia 🙂

golden sunrise gunung prau

Ada sekitar 6 bukit disana yang hampir kami jelajahi semuanya untuk mencari spot terbaik. Dan inilah yang menurut kami terbaik. Dibalakang kami adalah gunung Sumbing dan Sindoro.

sumbing sindoro dari prau

Acara selanjutnya!

Adalah masak nasi. Karena saya gagal memasak nasi semalam, akhirnya robi mau ambil alih. Ditemani Sasa, Mereka mencoba masak nasi goreng dan hasilnya, Jujur, masih mendingan nasi saya semalam. Sekali lagi saya ingatkan, Jangan naik gunung tanpa orang yang ahli memasak nasi. Sumpah.

Masak sudah, Makan sudah, dan saat bersiap-siap untuk pulang. Padahal suasana gunung prau sekitar Jam 10 Pagi itu sangat sangat sepi.

Saran, Jika Anda mau ke Gunung Prau, sebaiknya naik di pagi hari karena ketika Anda sampai di puncak, para pendaki lain sudah turun, alhasil, sepi, sangat cocok untuk Anda yang ingin bergalau ria.

Kami bermalas-malasan sejenak, sekedar menikmati luasnya puncak Prau. Namun apa harus dikata, kita harus pulang hari itu juga.

Turun via Jalur Dieng

Jam 12 siang, kami semua sudah siap untuk perjalanan turun. Kami memutuskan untuk memutar lewat jalur Dieng, bukan patak banteng mengingat jalur Patak Banteng sangat curam dan tidak bisa dinikmati.

Dan keputusan kami sangat sangat sangat tepat, Bukit Teletubies yang hanya kita lihat di TV sewaktu kita kecil sekarang ada di depan mata kita!

bukit teletubies

Sekedar info, Jangan lewat sini jika kalian sama sekali buta jalur, sangat banyak cabang disini, salah ambil jalur, Anda bisa sampai di antah berantah, karena semua pemandangannya sama, bukit.

Untungnya kami beruntung, kami selalu mendapatkan jalur yang benar, meskipun sesekali ragu. 1 Jam pertama kami melewati bukit teletubies, dan kemudian kami mendaki salah satu bukit penghubung antara puncak prau dan dieng.

Setelah itu kami berjalan kembali menuju BTS (Tower signal, atau apalah itu Anda menyebutnya). BTS itu adalah Pos 2 jika Anda mendaki lewat dieng.

Dan kemudian kami berjalan menurun agak curam dengan medan tanah merah yang licin. Satu jam kemudian kami bertemu hutan pinus, Alias Pos 1 alias sudah dekat dengan dieng.

Satu Jam lagi dari pos 1 kami bertemu ladang warga yang artinya, tinggal beberapa langkah lagi sampai di peradaban.

D I E N G

Dieng Pass, adalah nama titik awal / Basecamp pendaki Gunung Prau yang mau mendaki Gunung itu via Dieng.

Bukannya senang, saya malah agak kebingungan, hari sudah sore, sedangkan bus beroprasi cuma sampai jam 17.00 kata mas Fasol.

Kami semua berbenah di Masjid yang agak sepi di sekitar situ, kemudian makan sambil berfikir, mau kemana kita setelah ini?

Di Dieng Pass banyak sekali Cottage / Vila / Home stay. Kami kebingungan, pertama kami harus pulang hari itu karena kami membawa anak kecil yang merengek minta pulang dan kedua, kami kehabisan uang.

Setelah berunding, awalnya kami memutuskan untuk stay, karena kami ditawari homestay yang cukup murah oleh pemilik warung makan. Oh iya, Tarif home stay rata-rata 150 – 300ribu per kamar per malam disana.

Saya dan Ratu pasrah, dan berniat untuk mengambil uang di atm terdekat. Dewi Fortuna berpihak kepada kami, diperjalanan menuju ATM, kami menemukan bus menuju terminal Wonosobo.

Setelah negosiasi dengan kenek, akhirnya kami sepakat dengan tarif 20 ribu per orang sampai wonosobo.

Kurang dari satu jam kami sudah sampai di Terminal Wonosobo daaan Bus menuju Jakarta habis. Kami diharuskan menunggu paling tidak sampai subuh.

The best Alfamart in the world

Kami semua bingung mau kemana, akhirnya kami menuju alfamart tempat kami membeli logistik kemarin. Dan untungnya penjaga toko tersebut mengizinkan kami bermalam disana, Terpujilah Alfamart.

Oh iya, Alfamartnya memiliki halaman depan yang luas dan nyaman, saya berasumsi jika toko itu memang di design khusus untuk orang yang kehabisan bus seperti kami.

Disana, kami menghabiskan malam sambil bermain kartu, dari tepok nyamuk sampai main ‘Bohong’. Saya rasa, letak terseru dari perjalanan ini adalah disini, Alfamart.

Pendaki lain yang berada tak jauh dari kami menghampiri, dan memberitahukan jika masih ada bus besok pagi menuju Bandung dengan harga Rp 85.000, yaitu PO Budiman.

Itulah enaknya menjadi pecinta alam, tiba-tiba saja ada orang baik seperti mas Gimbal ini, Maaf ya mas abisnya saya gak tahu nama situ, tapi Terimakasih banyak lah.

Saya dan Ratu langsung bergegas ke Counter PO Budiman di terminal, ternyata sudah tutup.

Ada kejadian lucu, Di depan Counter PO Budiman ada sepasang kekasih yang sepertinya juga dari Prau dan sedang mencari kendaraan pulang.

Saya menyapa: “Mas, mau naik bus ini juga ya? beli tiketnya dimana ya?”

Dan jawaban mereka: “Sorry, We don’t Speak Indonesian

Ternyata mereka adalah bule Filipina, sadar English saya sebatas pasif, saya memanggil Ratu untuk berbincang dengan mereka.

Ternyata, mereka tengah kebingungan karena bus yang akan mereka naiki tak kunjung datang, mereka komplain ke satpam terdekat tapi satpam tersebut tak mengerti bahasa mereka.

Jadi, mereka telah membeli tiket pulang pada hari itu, Tertulis di tiket jam keberangkatannya adalah 18.00, dan mereka salah baca, mereka kira itu adalah 10.00, atau jam 10 malam.

Alhasil si bule menginap kembali di hotelnya dengan opsi harus kembali lagi besok pukul 5 pagi. Ratu yang daritadi menjadi translator antara Si satpam dan bule dijanjikan 7 tiket PO Budiman untuk besok pagi, tanpa harus antri, tapi tetap bayar-.

Entah apa jadinya si bule tanpa kehadiran kami, atau tepatnya Ratu.

Merasa Aman, Kami pun kembali melanjutkan permainan kartu kami, sambil tertawa terbahak-bahak karena cerita tentang si bule itu.

Tak terasa pagi sudah datang, Kami harus bergegas ke terminal demi tiket pulang kami.

Bus berangkat tepat pukul 8. Boleh dibilang, bus budiman adalah bus dengan pelayanan yang bagus. Kami tiba di Cileunyi pukul 7 malam dan harus berpisah dengan Robi dan Bori, karena mereka langsung pulang menuju Cikampek. Saya dan sisanya mencari bus Primajasa jurusan Lebakbulus.

Tengah malam kami sampai di Lebak bulus, Sasa dijemput orangtua dari sepupunya Ratu. Akas dijemput teman sekosannya, sedangkan saya dan ratu naik taksi. Dan sekitar pukul 12 saya sampai dirumah dengan selamat sentosa 🙂

Sekian catatan perjalanan di gunung Prau yang semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Terimakasih Dieng, Gunung Prau. Terimakasih juga untuk Ratu, Sasa, Robi, Bori, Akas dan sepupunya ratu. Lain kali boleh lah kita mengadakan pendakian lagi.

Jangan lupa mampir ke: Catatan perjalanan Gunung Merbabu

Share this to your friends